Sabtu, 22 Desember 2012
Perkembangan Masas Dewasa Madya
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada umumnya usia madya atau usia setengah baya dipandang sebagai masa usia antara 40 – 60 tahun. Masa tersebut pada akhirnya akan ditandai oleh perubahan jasmani dan mental. Pada usia 60 tahun biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik, sering pula diikuti oleh penurunan daya ingat. Walaupun dewsa ini banyak yang mengalami perubahan-perubahan tersebut lebih lambat daripada masa lalu, namun garis batas tradisionalnya masih nampak. Meningkatnya kecenderungan untuk pensiun pada usia 60an sengaja atau tidak sengaja usia 60an dianggap sebagai garis batas antara usia lanjut dengan usia madya.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Karakteristik kepribadian pada masa dewasa madya ?
2. Bagaimana cara menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan mental pada masa dewasa madya ?
3. Bagaimana perkembangan minat dan penyesuaian sosial pada masa dewasa madya ?
C. Tujuan Masalah
1. Menjelaskan tentang karakteristik kepribadian pada masa dewasa madya
2. Menjelaskan tentang penyesuaian diri terhadap perubahan fisik dan mental pada masa dewasa madya
3. Menjelaskan tentang perkembangan minat dan penyesuaian sosial pada masa dewasa madya
BAB II
PEMBAHASAN
Perkembangan Kepribadian pada Masa Dewasa Madya
A. Karakteristik Dewasa Madya
Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian:
1. Masa dewasa awal (masa dewasa dini/young adult)
Masa dewasa awal adalah masa pencaharian kemantapan dan masa reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan emosional, priode isolasi social, priode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Kisaran umurnya antara 21 tahun sampai 40 tahun.
2. Masa dewasa madya (middle adulthood)
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan social antara lain; masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan social..
3. Masa usia lanjut (masa tua/older adult)
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai mati, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun. Adapun ciri-ciri yang berkaitan dengan penyesuaian pribadi dan sosialnya adalah sebagai berikut; perubahan yang menyangkut kemampuan motorik, peruban kekuatan fisik, perubahan dalam fungsi psikologis, perubahan dalam system syaraf, perubahan penampilan.
Setengah baya/madya menunjukkan banyak kesamaan dengan masa remaja. Khusus usia setengah baya, sama dengan posisi masa remaja. Perubahan-perubahan hal fisik dan psikis juga terdapat kesamaan antara dua masa kehidupan itu.
Kalau posisi remaja merupakan masa peralihan, tak lagi dapat dikatakan kanak-kanak dan belum lagi disebut dewasa, maka posisi usia setengah baya juga dalam peralihan, tidak muda dan bukan tua. Masa remaja merupakan masa terjadinya perubahan yang cepat bhagi hal-hal fisik yang membawa akibat-akibat terhadap perilaku dan perasaan-perasaannya. Usia setengah baya, demikian pula. Bedanya, kalau pada masa remaja perubahan itu bersifat pertumbuhan, maka pada masa setengah baya bersifat pemunduran. Tetapi yang lebih penting, perilaku dan perasaan yang menyertainya adalah sama yaitu “swalah tingkah”, canggung dan kadang-kadang bingung .
Ciri-Ciri Dewasa Madya
• Masa yang ditakuti (a dreaded period).
• Masa transisi (a time of transition).
• Masa penyesuaian kembali (a time of adjustment).
• Masa keseimbangan dan ketidakseimbang-an (a time of equilibrium and disequilibrium
• Usia berbahaya (a dangerous age).
• Usia kaku/canggung (a awkward age).
• Masa berprestasi (a time of achievement).
Masa yg ditakuti
• Selain masa tua (old age), masa dewasa madya juga merupakan masa yang sangat ditakuti datangnya oleh kebanyakan individu, sehingga seolah-olah mereka ingin mengerem laju pertambahan usia mereka.
• Bagi perempuan masa dewasa madya tidak saja berarti menurunnya kemampuan reproduktif dan datangnya menopause, namun juga menurunnya daya tarik seksual.
• Umumnya mereka (individu dewasa madya) merasa tidak lagi menarik secara seksual bagi suami mereka, sehingga muncul kekhawatiran akan kehilangan suami dan kondisi ini selain dapat mengakibatkan para istri begitu mengharapkan suaminya bersikap seperti ketika masih pengantin baru, juga munculnya rasa cemburu yang kadang cenderung berlebihan, bila melihat suaminya berkomunikasi dengan perempuan yang lebih muda usianya.
• Biasanya di usia-usia ini, suami mereka mulai lebih berkonsentrasi pada karier dan peningkatan kariernya, sehingga mereka semakin merasa kesepian dan diabaikan.
• Perasaan-perasaan negatif ini bila tidak segera dicari pemecahannya dapat mengakibatkan para istri mengalami depresi.
• Bagi pria, masa dewasa madya merupakan usia yang mengandung arti menurunnya kemampuan fisik secara menyeluruh, termasuk berkurangnya vitalitas seksual.
• Sebagian kaum pria yang mengalami tanda-tanda terjadinya penurunan kemampuan seksual ini, akan mengalihkan perhatian mereka pada kesibukan bekerja demi meningkatkan prestasi dan memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat.
• Selain masalah seksual, kaum pria yang telah memasuki usia dewasa madya, ada juga yang ingin menutupi kelemahan fisiknya dengan melakukan aktivitas fisik berlebihan, dan cenderung menolak bantuan dari mereka yang lebih muda.
• Pada sebagian yang lain, justru bersikap kompensatif, dalam arti untuk menutupi kekurangannya mereka bersikap seperti anak muda dengan lebih memperhatikan penampilan fisik, berdandan sedemikian rupa untuk mencari perhatian dari lawan jenis yang berusia jauh lebih muda.
• Mereka yang berperilaku seperti ini justru menunjukkan adanya ketidak percayaan yang cukup besar terhadap daya tarik seksual mereka.
Masa Transisi
• Seperti juga masa remaja, individu pada masa dewasa madya juga disebut sebagai masa transisi dari masa dewasa awal ke masa dewasa lanjut (lansia).
• Sebagian cirri-ciri fisik dan perilakunya masih memperlihatkan masa dewasa awal, sementara banyak ciri fisik dan perilaku lainnya justru telah menunjukkan ciri-ciri orang dewasa lanjut.
• Kondisi transisi ini menyebabkan mereka harus banyak melakukan penyesuaian terhadap peran-peran baru yang diberikan oleh masyarakat. Selain itu, masyarakat juga mengharapkan mereka untuk dapat berpikir dan berperilaku sesuai dengan usianya.
Masa Penyesuaian kembali
• Memasuki usia dewasa madya, cepat atau lambat individu harus mengadakan penye-suaian kembali terhadap perubahan2 yang dialaminya, baik fisik maupun peranan.
• Penyesuaian terhadap perubahan peranan, biasanya akan terasa lebih sulit dilakukan bila dibandingkan dengan penyesuaian terhadap berubahnya kondisi fisik. Misalnya kaum pria yang mengalami masa pensiun, atau kaum perempuan yang mengalami perubahan peran sebagai ibu dengan anak-anak yang akan mulai memasuki kehidupan baru.
Masa Keseimbangan dan Ketidakseimbangan
• Pengertian keseimbangan mengacu pada kemampuan penyesuaian terhadap terjadinya perubahan-perubahan fisik dan psikologis yang dilakukan orang-orang dewasa madya.
• Keseimbangan ini dapat dicapai bila ada penyesuaian secara menyeluruh terhadap pola-pola kehidupannya. Mereka yang mampu mencapai keseimbangan akan merasakan kehidupan yang tenang, tenteram dan damai di rumah, sehingga tidak suka keluyuran/ buang-buang waktu di luar rumah untuk kegiatan yang tidak berguna.
• Ketidakseimbangan artinya adalah terjadinya kegoncangan-kegoncangan/gangguan-gangguan penyesuaian yang dialami individu pada masa ini, baik yang bersifat internal maupun eksternal, termasuk dengan pasangan hidupnya.
• Mereka yang tidak mampu mencapai keseimbangan ini akan merasa tidak betah di rumah, dan cenderung ingin lari dari rumah untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik dan psikologis yang tidak diperoleh di rumahnya
Usia Berbahaya
• Yang dimaksud dengan usia berbahaya adalah dalam hal kehidupan seksual-nya, terutama dengan isterinya.
• Juga dalam hal-hal yang berhubungan dengan segala aspek kehidupan lainnya, seperti kondisi fisik yang mulai rentan terhadap penyakit, juga kondisi psikologis yang relative menjadi lebih peka, dalam arti mudah tersinggung, tertekan, stress, hingga depresi.
• Dalam hal-hal yang berhubungan dengan masalah seksual, tidak jarang terjadi para suami yang mulai merasa bosan dengan istrinya, sehingga mulai menyeleweng, atau pun menceraikan istrinya untuk kawin lagi dengan perempuan lain yang kadang-kadang seusia dengan anak gadisnya.
• Adapun untuk hal-hal yang lain, individu usia dewasa madya, relative lebih sering mengalami gangguan fisik maupun mental, bahkan pada orang-orang tertentu dapat mengakibatkan bunuh diri.
Usia Kaku/Canggung
• Seperti juga masa remaja ketika individu tidak bisa lagi disebut anak-anak, tetapi juga belum layak disebut dewasa, begitu juga individu dewasa madya, sudah kurang pantas disebut dewasa dini, namun juga belum bisa disebut tua. Dalam situasi seperti ini, kadang muncul rasa canggung dan bingung pada individu.
• Pada sebagian individu kondisi ini mengakibatkan mereka ingin menutupi ketuaan dengan berbagai cara dan sejauh mungkin berusaha untuk tidak tampak tua, misalnya dalam hal pemilihan busana, berdandan/ pemakaian kosmetik dsb. Kadang-kadang apabila individu agak berlebihan di dalam menampilkan busana dan dandanan yang bertujuan untuk menutupi ketuaannya, maka hal ini justru menyebabkan mereka tampak janggal, sehingga terlihat kaku/canggung.
Masa Berprestasi
• Berprestasi pada usia dewasa madya menurut Werner merupakan suatu gambaran yang positif dari seorang individu.
• Pada usia 40 tahun pada orang-orang normal telah memiliki pengalaman yang cukup dalam pendidikan dan pergaulan, sehingga mereka telah memiliki sikap yang pasti serta nilai-nilai tentang hubungan sosial yang berkembang secara baik.
• Kondisi keuangan dan kedudukan social mereka biasanya telah mapan, serta mereka telah memiliki pandangan yang jelas tentang masa depan dan tujuan yang ingin dicapai.
• Apabila situasi ini diikuti dengan kondisi fisik yang prima, maka mereka dapat menyatakan bahwa hidup dimulai di usia 40 tahun (life begin 40th).
• Menurut Hurlock yang dapat dicapai individu di usia dewasa madya, tidak hanya kesuk-sesan secara finansial, melainkan juga dalam hal kekuasaan dan prestise.
• Biasanya usia pencapaian terjadi antara 40-50 tahun. Selain itu masyarakat sendiri nampaknya baru mengakui kemampuan atau prestasi seseorang secara mantap apabila yang bersangkutan telah memasuki usia dewasa madya.
B. Penyesuaian Diri Terhadap Perubahan Fisik dan Mental
Menurut Havighurst, tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu; dan apabila berhasil mencapainya mereka akan berbahagia, tetapi sebaliknya apabila mereka gagal akan kecewa dan dicela orang tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan, yaitu :
• Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologis
• Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu
• Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia
• Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir pekerjaan
• Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang yang dewasa
• Mencapai tanggung jawab sosial dan warga Negara secara penuh.
C. Perkembangan Minat dan Penyesuaian Sosial
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai umur enam puluh tahun.
Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial pada masa ini antara lain:
1. Penyesuaian terhadap perubahan minat : aktifitas sosial, sebagai warga negara, atau minat yag berkaitan dengan hobi
2. Penyesuaian jabatan atau pekerjaan
3. Penyesuaian yang berhubungan dengan keluarga
4. Pernikahan dan cinta : individu berada pada masa kesetabilan
5. Sindrom sarang kosong : terjadi karena anak-anak mulai meninggalkan orang tuanya
6. Pengisisan waktu luang : individu membangun dan memenuhi waktu luang untuk persiapan pensiun
7. Keterdekatan antar generasi : keterdeatan hubungan tampak pada keterdekatan anak yang beranjak dewasa dengan orang tua
8. Meningkatnya hubungan persaudaraan dan persahabatan
9. Pada masa dewasa madya ini perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Karakteristik kepribadian dewasa madya
• Masa yang ditakuti (a dreaded period).
• Masa transisi (a time of transition).
• Masa penyesuaian kembali (a time of adjustment).
• Masa keseimbangan dan ketidakseimbang-an (a time of equilibrium and disequilibrium
• Usia berbahaya (a dangerous age).
• Usia kaku/canggung (a awkward age).
• Masa berprestasi (a time of achievement).
Penyesuaian diri pada perubahan fisik
• Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologis
• Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu
• Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan berbahagia
• Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir pekerjaan
• Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang yang dewasa
• Mencapai tanggung jawab sosial dan warga Negara secara penuh.
Perkembangan Minat dan penyesuaian sosial
Pada masa dewasa madya ini perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
http://gontor2007.blogspot.com/2010/04/masa-dewasa-madya.html/18-12-11/10:42
http://allabout-psikologi.blogspot.com/2009/11/dewasa-madya.html/18-12-11/10:42
http://kuliahpsikologi.dekrizky.com/masa-dewasa-madya-40-60-tahun/02-12-11/11:43
http://allabout-psikologi.blogspot.com/2009/11/dewasa-madya.html/18-12-11/10:43
Bu Farida Harahap Tim. Perkembangan dewasa dini power point. Pdf
http://allabout-psikologi.blogspot.com/2009/11/dewasa-madya.html/18-12-11/10:42
Pengaruh Herditas dan Lingkungan Dalam Pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
HEREDITAS DAN LINGKUNGAN DALAM PROSES BELAJAR
A. Pengertian hereditas dan lingkungan
1. Pengertian hereditas
Hereditas dalah pewarisan atau pemindahan biologis, karakteristik individu dari pihak orang tua.[1]
Menurut Witherington, hereditas adalah suatu proses penurunan sifat-sifat atau benih dari generasi ke generasi lain, melalui plasma benih, bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur tubuh.[2]
Setiap sel dalam tubuh memiliki herditas identik sebagai akibat dari adanya proses individu dan differensiasi. Hereditas juga merupakan factor pertama yang mempengaruhi perkembangan indvidu. Setiap individu memulai kehidupannya sebagai organism yang bersel tunggal yang bentuknya sangat kecil, garis tengahnya lebih kurang 1/200 inci (1/80 cm). sel ini merupakan perpaduan antara sel telur dengan sel sperma. Di dalam rahim, sel benih yang telah dibuahi teris bertambah besar dengan jalan pembelahan sel menjadi organism yang bersel dua, empat, delapan, dst. Hingga setekah kurang lebih 9 bulan menjadi organism yang sempurna.
Dapat diketahui bahwa perkembangan hasil-hasil kebudayaan yang di peroleh dalam suatu generasi tidak dapat di turunkan ke generasi berikutnya secara biologis karena antara sel-sel benih dengan sel-sel somatis nampaknya ada semacam statesqo. Sehingga perubahan-perubahan yang terjadi pada sel – sel somatis tidak mempengaruhi keadaan sel-sel benih
Menurut Witherington, proses factor keturunan ini bekerja melalui prinsip-prinsip sabagai berikut :[3]
• Prinsip stabilitas
Pada prinsip stabilitas, hereditas , itu berproses dengan perantara sel-sel benih, dan tidak melalui sel-sel somatic atau sel-sel badan. Artinya bahwa ciri-ciri yang dipelajari natau diperoleh oleh orang tua , tidak akan ditentukan kapada anak.
• Prinsip konformitas
Pada prinsip ini menyatakan bahwa jenis menghasilkan jenis atau setiap golongan menurunkan golongannya. Sendiri. Anak termasuk kedalam golongan yang serupa dari golongan orang tuanya.
• Prinsip variasi
Pada prinsip ini menyatakan bahwa sel-sel benih mengandung determinan- determinan yang banyak jumlahnya , pada waktu penyerbukan ovum saling berkomunikasi dalam cara yang berbeda –beda untuk menghasilkan anak yang saling berbeda . jadi prinsip variasi ini berlaku dalam batas-batas yang ditentukan oleh pola-pola rasial umum.
• Prinsip regresi filial
Pada prinsip ini menyatakan bahwa pada setiap sifat atau ciri manusia anak memperlihatkan kecenderungan menuju keadaan rata-rata. Artinya , bahwa anak orang tua yang sangat cerdas biasanya condong untuk menjadi anak yang kurang cerdas dari pada orang yang tuanya, dan sebaliknya.
• Pengertian lingkungan
• Pengertian lingkungan menurut psikologi ialah segala sesuatu yang ada di dalam atau di luar individu yang bersifat mempengaruhi sikap, tingkah laku atau perkembangannya. Lingkungan itu wujudnya dapat berupa benda – benda atau objek-objek alam, orang-orang dan karyanya serta berupa fakta-fakta objektif yang terdapat dalam diri individu, seperti kondisi organ, perubahan –perubahan organ dan lain-lain.
• Secara Fisiologis, lingkungan meliputi segala kondisi dan material jasmani di dalam tubuh, seperti gizi, vitamin, ar, system saraf, dan kesehatan jasmani.
• Secara Kultural lingkungan mencakup segenap stimulasi, interaksi, dan kondisi dalam hubungan nya dengan perlakuan atau karya orang lain.
• B. Pengaruh Hereditas dan lingkungan terhadap pertumbuhan individu
• Pengaruh hereditas terhadap pertumbuhan individu
Pertumbuhan adalah suatu pertambahan atau kenaikan dalam ukuran dari bagian- bagian tubuh atau dari organism e sebagai suatu keseluruhan . pertumbuhan menunjukan pada perubahan kuantitatif , yaitu yang dapat di hitung atau diukur, seperti panjang atau berat tubuh .[4]
Keturunan memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak . warisan (turunan/pembawaan) tersebut antara lain:
1. Bentuk tubuh dan warna kulit
Pengaruh turunan terhadap pertumbuhan jasmani anak. Bagaimanapun tingginya teknologi untuk mengubah bentuk dan warna kulit seseorang, namun factor turunan tidak dapat diabaikan begitu saja. Contohnya, bila anak yang berpembawaan rambut keriting, bagaimanapun berusaha untuk meluruskannya akhirnya akan kembali keriting.
1. Sifat – sifat
Sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang adalah salah satu aspek yang diwarisi dari ibu, ayah atau kakek dan nenek, seperti penyabar, pemarah, kikir, dll.
1. Intelegensi
Intelegensi adalah kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Misalnya , mengngat, memahami, berbahasa dan sebagainya.
1. Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol diantara berbagai jenis kemampuan yang dimiliki seseorang, seperti seni music, matematika, teknik, agama.
1. Penyakit
Penyakit yang dibawa sejak lahir akan terus mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak.[5]
1. Pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan individu
Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bergantung pada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya.
1. Keluarga
Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga berada, umumnya sehat dan cepat pertumbuhan badannya dibandingkan dengan anak dari keluarga miskin. Jadi keluarga berpengaruh besar terhadap pertumbuhan, terutama ekonomi rumah tangga serta kemamouan orang tua dalam merawat pertumbuhan jasmani anak.
1. Sekolah
sekolah merupakan salah satu factor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama untuk kecerdasannya. Tnggi rendahnya pendidikan dan jenis sekolahnya menentukan pola piker serta kepribadian anak.
1. Keadaan alam sekitar
Lingkungan mempengaruhi setiap pertumbuhan fisik anak. Seperti, suhu,makanan ,keadaan gizi, aktivitas ,dan sebagainya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan.
Ada 4 macam tingkah laku manusia, yaitu;
1. Insting, yaitu aktivitas yang hanya menuruti kodrat dan tidak melalui belajar.
2. Habits, yaitu kebiasaan yang dihasilkan dari pelatihan yang berulang- ulang.
3. Native behavior, yaitu tingkah laku pembawaan.
4. Acquired behavior, yaitu tingkah laku yang diperoleh sebagai hasil dari belajar.
1. C. Pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap perkembangan individu
1. Pengaruh hereditas terhadap perkembangan individu
Perkembangan adalah serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat tetap dari fungsi- fungsi jasmani dan rohani yang dimiliki indivdu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pematangan dan belajar.
Manusia dilahirkan dengan struktur jasmani seperti system syaraf, kelenjer dan organ. Semua itu menentukan stabilitas amosi serta membedakan kapasitas mental, maka kesehatan mental dan emosi lebih banyak dpengaruhi oleh hereditas.
1. Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan individu
Lingkungan perkembangan anak adalah keseluruhan fonomena (peristiwa, situasi, atau kondisi) fisik atau social yang mempengaruhi perkembangan anak.
1. Keluarga
Keluarga memiliki peranan dalam upaya pengembangan pribadi anak perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nlai- nilai kehidupan, baik agama maupun social budaya yang diberikannya merupakan factor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.
1. Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan proses bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka membantu anak agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral-sriritual, intelektual, emosional, maupun social.
1. Kelompok teman sebaya
Kelompok teman sebaya sebagai lingkungan sosia bagi anak berpengaruh terhadap terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat, yaitu:
- Perubahan struktur keluarga, dari keluarga besar ke keluarga kecil.
- Kesenjangan antara generasi tua dan generasi muda.
- Ekspansi jaringan kumunikasi antara kaula muda.
- Panjangnya masa atau penundaan memasuki masyarakat orang dewasa.
________________________________________
[1] Drs. Wasti sumanto .M.pd. psikologi pendidikan .Jakarta(PT.Rineka cipta :2006) hal 82
[2] Drs. H.M.Arifin M.ed. psikologi dan beberapa aspek kehidupan rohaniah manusia.jakarta (PT.Bulan Bintang: 1976)hal 124
[3] Ibid hal 126
[4] Desmita . Psikologi perkembangan .Bandung (PT. Remaja Rosda Karya: 2005) hal 5
[5] Drs. Anwar Bey Hasibuan . psikologi pendidikan . Medan (Pustaka widiaSarana :1994) hal 25
http://assyiddatiy.wordpress.com/2010/12/03/hereditas-dan-lingkungan-dalam-proses-belajar/20-08-2011.10:49
Hereditas Dan Lingkungan Dalam Proses Belajar
A. Pengertian hereditas dan lingkungan
1. Pengertian hereditas
Hereditas adalah pewarisan atau pemindahan biologis, karakteristik individu dari pihak orang tua.[1]
Menurut Witherington, hereditas adalah suatu proses penurunan sifat-sifat atau benih dari generasi ke generasi lain, melalui plasma benih, bukan dalam bentuk tingkah laku melainkan struktur tubuh.[2]
Setiap sel dalam tubuh memiliki herditas identik sebagai akibat dari adanya proses individu dan differensiasi. Hereditas juga merupakan factor pertama yang mempengaruhi perkembangan indvidu. Setiap individu memulai kehidupannya sebagai organism yang bersel tunggal yang bentuknya sangat kecil, garis tengahnya lebih kurang 1/200 inci (1/80 cm). sel ini merupakan perpaduan antara sel telur dengan sel sperma. Di dalam rahim, sel benih yang telah dibuahi teris bertambah besar dengan jalan pembelahan sel menjadi organism yang bersel dua, empat, delapan, dst. Hingga setekah kurang lebih 9 bulan menjadi organism yang sempurna.
Dapat diketahui bahwa perkembangan hasil-hasil kebudayaan yang di peroleh dalam suatu generasi tidak dapat di turunkan ke generasi berikutnya secara biologis karena antara sel-sel benih dengan sel-sel somatis nampaknya ada semacam statesqo. Sehingga perubahan-perubahan yang terjadi pada sel – sel somatis tidak mempengaruhi keadaan sel-sel benih
Menurut Witherington, proses factor keturunan ini bekerja melalui prinsip-prinsip sabagai berikut :[3]
a) Prinsip stabilitas
Pada prinsip stabilitas, hereditas , itu berproses dengan perantara sel-sel benih, dan tidak melalui sel-sel somatic atau sel-sel badan. Artinya bahwa ciri-ciri yang dipelajari natau diperoleh oleh orang tua , tidak akan ditentukan kapada anak.
b) Prinsip konformitas
Pada prinsip ini menyatakan bahwa jenis menghasilkan jenis atau setiap golongan menurunkan golongannya. Sendiri. Anak termasuk kedalam golongan yang serupa dari golongan orang tuanya.
c) Prinsip variasi
Pada prinsip ini menyatakan bahwa sel-sel benih mengandung determinan- determinan yang banyak jumlahnya , pada waktu penyerbukan ovum saling berkomunikasi dalam cara yang berbeda –beda untuk menghasilkan anak yang saling berbeda . jadi prinsip variasi ini berlaku dalam batas-batas yang ditentukan oleh pola-pola rasial umum.
d) Prinsip regresi filial
Pada prinsip ini menyatakan bahwa pada setiap sifat atau ciri manusia anak memperlihatkan kecenderungan menuju keadaan rata-rata. Artinya , bahwa anak orang tua yang sangat cerdas biasanya condong untuk menjadi anak yang kurang cerdas dari pada orang yang tuanya, dan sebaliknya.
2. Pengertian lingkungan
Pengertian lingkungan menurut psikologi ialah segala sesuatu yang ada di dalam atau di luar individu yang bersifat mempengaruhi sikap, tingkah laku atau perkembangannya. Lingkungan itu wujudnya dapat berupa benda – benda atau objek-objek alam, orang-orang dan karyanya serta berupa fakta-fakta objektif yang terdapat dalam diri individu, seperti kondisi organ, perubahan –perubahan organ dan lain-lain.
Secara Fisiologis, lingkungan meliputi segala kondisi dan material jasmani di dalam tubuh, seperti gizi, vitamin, ar, system saraf, dan kesehatan jasmani.
Secara Kultural lingkungan mencakup segenap stimulasi, interaksi, dan kondisi dalam hubungan nya dengan perlakuan atau karya orang lain.
B. Pengaruh Hereditas dan lingkungan terhadap pertumbuhan individu
1. Pengaruh hereditas terhadap pertumbuhan individu
Pertumbuhan adalah suatu pertambahan atau kenaikan dalam ukuran dari bagian- bagian tubuh atau dari organism e sebagai suatu keseluruhan . pertumbuhan menunjukan pada perubahan kuantitatif , yaitu yang dapat di hitung atau diukur, seperti panjang atau berat tubuh .[4]
Keturunan memiliki peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak . warisan (turunan/pembawaan) tersebut antara lain:
a. Bentuk tubuh dan warna kulit
Pengaruh turunan terhadap pertumbuhan jasmani anak. Bagaimanapun tingginya teknologi untuk mengubah bentuk dan warna kulit seseorang, namun factor turunan tidak dapat diabaikan begitu saja. Contohnya, bila anak yang berpembawaan rambut keriting, bagaimanapun berusaha untuk meluruskannya akhirnya akan kembali keriting.
b. Sifat – sifat
Sifat-sifat yang dimiliki oleh seseorang adalah salah satu aspek yang diwarisi dari ibu, ayah atau kakek dan nenek, seperti penyabar, pemarah, kikir, dll.
c. Intelegensi
Intelegensi adalah kemampuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Misalnya , mengngat, memahami, berbahasa dan sebagainya.
d. Bakat
Bakat adalah kemampuan khusus yang menonjol diantara berbagai jenis kemampuan yang dimiliki seseorang, seperti seni music, matematika, teknik, agama.
e. Penyakit
Penyakit yang dibawa sejak lahir akan terus mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak.[5]
2. Pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan individu
Besar kecilnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan bergantung pada keadaan lingkungan anak itu sendiri serta jasmani dan rohaninya.
1. Keluarga
Anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga berada, umumnya sehat dan cepat pertumbuhan badannya dibandingkan dengan anak dari keluarga miskin. Jadi keluarga berpengaruh besar terhadap pertumbuhan, terutama ekonomi rumah tangga serta kemamouan orang tua dalam merawat pertumbuhan jasmani anak.
2. Sekolah
sekolah merupakan salah satu factor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama untuk kecerdasannya. Tnggi rendahnya pendidikan dan jenis sekolahnya menentukan pola piker serta kepribadian anak.
3. Keadaan alam sekitar
Lingkungan mempengaruhi setiap pertumbuhan fisik anak. Seperti, suhu,makanan ,keadaan gizi, aktivitas ,dan sebagainya sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan.
Ada 4 macam tingkah laku manusia, yaitu;
1. Insting, yaitu aktivitas yang hanya menuruti kodrat dan tidak melalui belajar.
2. Habits, yaitu kebiasaan yang dihasilkan dari pelatihan yang berulang- ulang.
3. Native behavior, yaitu tingkah laku pembawaan.
4. Acquired behavior, yaitu tingkah laku yang diperoleh sebagai hasil dari belajar.
C. Pengaruh hereditas dan lingkungan terhadap perkembangan individu
1. Pengaruh hereditas terhadap perkembangan individu
Perkembangan adalah serangkaian perubahan yang berlangsung secara terus menerus dan bersifat tetap dari fungsi- fungsi jasmani dan rohani yang dimiliki indivdu menuju ke tahap kematangan melalui pertumbuhan, pematangan dan belajar.
Manusia dilahirkan dengan struktur jasmani seperti system syaraf, kelenjer dan organ. Semua itu menentukan stabilitas amosi serta membedakan kapasitas mental, maka kesehatan mental dan emosi lebih banyak dpengaruhi oleh hereditas.
2. Pengaruh lingkungan terhadap perkembangan individu
Lingkungan perkembangan anak adalah keseluruhan fonomena (peristiwa, situasi, atau kondisi) fisik atau social yang mempengaruhi perkembangan anak.
1. Keluarga
Keluarga memiliki peranan dalam upaya pengembangan pribadi anak perawatan orang tua yang penuh kasih sayang dan pendidikan tentang nlai- nilai kehidupan, baik agama maupun social budaya yang diberikannya merupakan factor yang kondusif untuk mempersiapkan anak menjadi pribadi dan anggota masyarakat yang sehat.
2. Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang secara sistematis melaksanakan proses bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka membantu anak agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral-sriritual, intelektual, emosional, maupun social.
3. Kelompok teman sebaya
Kelompok teman sebaya sebagai lingkungan sosia bagi anak berpengaruh terhadap terjadinya perubahan dalam struktur masyarakat, yaitu:
1. Perubahan struktur keluarga, dari keluarga besar ke keluarga kecil.
2. Kesenjangan antara generasi tua dan generasi muda.
3. Ekspansi jaringan kumunikasi antara kaula muda.
4. Panjangnya masa atau penundaan memasuki masyarakat orang dewasa.
________________________________________
[1] Drs. Wasti sumanto .M.pd. psikologi pendidikan .Jakarta(PT.Rineka cipta :2006) hal 82
[2] Drs. H.M.Arifin M.ed. psikologi dan beberapa aspek kehidupan rohaniah manusia.jakarta (PT.Bulan Bintang: 1976)hal 124
[3] Ibid hal 126
[4] Desmita . Psikologi perkembangan .Bandung (PT. Remaja Rosda Karya: 2005) hal 5
[5] Drs. Anwar Bey Hasibuan . psikologi pendidikan . Medan (Pustaka widiaSarana :1994) hal 25
Sikap Profesional Keguruan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Guru sebagai pendidik yang dapat membentuk jiwa dan watak anak didik. Guru mempunyai kekuasaan untuk membangun dan membentuk kepribadian anak didik menjadi seorang yang berguna bagi agama, nusa, dan bangsa. Guru bertugas mempersiapkan manusia susila yang cakap yang diharapkan dapat membangun dirinya, membangun bangsa, dan negaranya.
Dalam bab II akan dibicarakan pengertian sikap profesional; sasaran sikap profesional terhadap peraturan perundang-undangan, organisasi profesi, teman sejawat, anak didik, tempat kerja, pemimpin, dan pekerjaan,; serta bagaiaman pengembangan sikap profesional itu haruss dilaksanakan. Seorang guru harus mangetahui bagaimana dia bersikap yang baik terhadap profesinya, dan bagaimana seharusnya sikap profesi itu dikembangkan sehingga mutu pelayanan sikap anggota kepada masyarakat makin lama makin meningkat.
B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian dari sikap profesional keguruan ?
2. Apa saja sasaran dari sikap profesional keguruan ?
3. Bagaimana pengembangan sikap profesional keguruan ?
4. Apa saja syarat-syarat menjadi Guru Profesional ?
C. Tujuan Pembuatan Makalah
1. Untuk mengetahui pengertian dari sikap profesional keguruan
2. Untuk mengetahui sasaran dari sikap profesional keguruan
3. Untuk mengetahui pengembangan sikap profesional keguruan
4. Untuk mengetahui syarat-syarat menjadi Guru Profesional
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Profesional Keguruan
Istilah profesi, secara etimologi, berasal dari bahasa Inggris yaitu profession atau bahasa latin, profecus, yang artinya mengakui, adanya pengakuan, menyatakan mampu, atau ahli dalam melakukan suatu pekerjaan. Sedangkan secara terminologi, profesi berarti suatu pekerjaan yang mempersyaratkan pendidikan tinggi bagi pelakunya yang ditekankan pada pekerjaan mental; yaitu adanya persyaratan pengetahuan teoritis sebagai instrumen untuk melakukan perbuatan praktis, bukan pekerjaan manual. Jadi suatu profesi (agar bisa dikatakan profesional) harus memiliki tiga pilar pokok, yaitu pengetahuan, keahlian, dan persiapan akademik.
Kata Profesi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kejuruan, dsb) tertentu. Di dalam profesi dituntut adanya keahlian dan etika khusus serta standar layanan. Profesi juga diartikan sebagai suatu pekerjaan tertentu yang mensyaratkan pengetahuan dan keterampilan khusus yang didapat dari pendidikan akademis yang intensif. Pengertian ini mengandung implikasi bahwa profesi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang secara khusus di persiapkan untuk itu. Dari pengertian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa profesi merupakan pekerjaan yang tidak sembarang orang bisa melakukannya.
Guru sebagai pendidik profesional mempunyai citra yang baik di masyarakat apabila dapat menunjukkan kepada masyarakat bahwa ia layak menjadi panutan atau teladan masyarakat sekelilingnya. Masyarakat terutama akan melihat bagaimana sikap dan perbuatan guru itu sehari-hari, apakah memang ada yang patut diteladani atau tidak. Bagaimana guru meningkatkan pelayanannya, meningkatkan pengetahuannya, memberi arahan dan dorongan kepada anak didiknya, dan bagaimana cara guru berpakaian dan berbicara serta cara bergaul baik dengan siswa, teman-temannya serta anggota masyarakat, sering menjadi perhatian masyarakat luas.
B. Sasaran Sikap Profesional Keguruan
Ada 7 sasaran yang berkaitan dengan sikap profesionl keguruan, diataranya adalah sebagai berikut :
a. Sikap Terhadap Peraturan Perundang-undangan
Pada butir Sembilan Kode Etik Guru Indonesia disebutkan bahwa: “Guru melaksanakan segala kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan”. Kebijaksanaan pendidikan di negara kita dipegang oleh pemerintah, dalam hal ini oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam rangka pembangunan di bidang pendidikan di Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan yang merupakan kebijaksanaan yang akan dilaksanakan oleh aparatnya, yang meliputi antara lain: pembangunan gedung-gedung pendidikan, pemerataan kesempatan belajar, peningkatan mutu pendidikan, pembinaan generasi muda dengan menggiatkan kegiatan karang taruna, dan lain-lain. Kebijaksanaan pemerintah tersebut biasanya akan dituangkan ke dalam bentuk ketentuan-ketentuan pemerintah.
Dalam bidang pendidikan guru harus taat kepada kebijaksanaan dan peraturan, baik yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan maupun departemen lain yang berwenang mengatur pendidikan, di pusat dan di daerah dalam rangka melaksanakan kebijaksanaan-kebijaksanaan pendidikan di Indonesia.
b. Sikap Terhadap Organisasi Profesi
Guru secara bersama-sama memelihara dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdian. Dasar ini menunjukkan betapa pentingnya peranan organisasi profesi sebagai wadah dan sarana pengabdian. PGRI sebagai organisasi organisasi profesi memerlukan pembinaan, agar lebih berdaya guna sebagai wadah usaha untuk membawakan misi dan memantapkan profesi guru. Ada hubungan timbale balik antara anggota profesi dengan organisasi, baik dalam melaksanakan kewajiban maupun dalam mendapatkan hak.
c. Sikap Terhadap Teman Sejawat
Dalam ayat 7 Kode Etik Guru, telah disebutkan bahwa : Guru memelihara hubungan seprofesi, semangat kekeluargaan, dan kesetiakawanan sosial”.
Dari pernyataan tersebut muncul pengertian bahwa :
a. Guru hendakna menciptakan dan memelihara hubungan sesama guru dalam lingkungan kerjanya
b. Guru hendaknya mnciptakan dan memelihara semangant kekeluargaan dan kesetiakawanan sosial di dalam dan di luar lingkungan kerjanya
Hubungan sesama anggota profesi dapat dilihat dari dua segi, yakni hubungan formal dan hubungan kekeluargaan. Hubungan formal ialah hubungan yang perlu dilakukan dalam rangka melakukan tugas kedinasan. Sedangkan hubungan kekeluargaan ialah hubungan persaudaraan yang perlu dilakukan, baik dalam lingkungan kerja maupun dalam hubungan keseluruhan dalam rangka menunjang tercapainya keberhasilan anggota profesi dalam membawakannya misalnya sebagai pendidik bangsa.
d. Sikap Tehadap Anak Didik
Guru berbakti membimbing peserta didik untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya yang berjiwa pancasila (Kode Etik Guru Indonesia). Guru harus membimbing anak didiknya. Dasar ini mengandung beberapa prinsip yang harus dipahami oleh seorang guru dalam menjalankan tugasnya sehari-hari, yakni: tujuan pendidikan nasional, prinsip membimbing, dan prinsip pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.
Prinsip manusia seutuhnya dalam kode etik ini memandang manusia sebagai kesatuan yang bulat, utuh, baik jasmani maupun rohani, tidak hanya berilmu tinggi tetapi juga bermoral tinggi pula.
e. Sikap Terhadap Tempat Kerja
Suasana yang baik di tempat kerja akan meningkatkan produktivitas. Untuk itu “Guru menciptakan suasana sekolah sebaik-baiknya yang menunjang berhasilnya proses belajar mengajar” (kode etik). Oleh sebab itu, guru harus aktif mengusahakan suasana yang baik dengan berbagai cara, baik dengan penggunaan metode mengajar yang sesuai, maupun dengan penyediaan alat belajar yang cukup, serta pengaturan organisasi kelas yang mantap, ataupun pendekatan lainnya yang diperlukan.
Selain itu guru juga membina hubungan baik dengan orang tua dan masyarakat sekitar.
f. Sikap Terhadap Pemimpin
Sebagai salah seorang anggota organisasi, baik organisasi guru maupun organisasi yang lebih besar (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan) guru akan selalu berada dalam bimbingan dan pengawasan pihak atasan.
Sikap seorang guru terhadap pemimpin harus positif, dalam pengertian harus bekerja sama dalam menyukseskan program yang sudah disepakati, baik disekolah maupun di luar sekolah.
g. Sikap Terhadap Pekerjaan
Seorang guru hendaknya mencintai pekerjaannya dengan sepenuh hati. Melaksanakan tugas melayani dengan penuh ketelatenan dan kesabaran yang tinggi, terutama bila berhubungan dengan peserta didik yang masih kecil. Barangkali tidak semua orang dikaruniai sifat seperti itu, namun bila seseorang telah memilih untuk memasuki profesi guru, ia dituntut untuk belajar dan berlaku seperti itu.
C. Pengembangan Sikap Profesional
Seperti telah diungkapkan, bahwa dalam rangka meningkatkan mutu, baik mutu profesional, maupun mutu layanan, guru harus pula meningkatkan sikap profesionalnya. Ini berarti bahwa ketujuh sasaran penyikapan yang telah dibicarakan harus selalu dipupuk dan dikembangkan. Pengembangan sikap profesional ini dapat dilakukan baik selagi dalam pendidikan prajabatan maupun setelah bertugas ( dalam jabatan ).
1. Pengembangan Sikap Selama Pendidikan Prajabatan
Dalam pendidijan prajabatan, calon guru dididik dalam berbagai pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang di perlukan dalam pekerjaan nanti. Karena tugasnya yang bersifat unik, guru selalu menjadi panutan bagi siswanya, bahkan bagi masyarakat sekelilingnya. Oleh sebab itu, bagaimana guru bersikap terhadap pekerjaan dan jabatan selalu menjadi perhatian siswa dan masyarakat.
Pembentukan sikap yang baik tidak mungkin muncul begitu saja, tetapi harus dibina sejak calon guru memulai pendidikannya di lembaga pendidikan guru.
Berbagai usaha dan latihan, contoh-contoh dan aplikasi penerapan ilmu, keterampilan dan bahkan sikap professional dirancang dan dilaksanakan selama calon guru berada dalam pendidikan prajabatan.
Sering juga pembentukan sikap tertentu terjadi sebagai hasil sampingan dari pengetahuan yang diperoleh calon guru. Sikap teliti dan disiplin, misalnya dapat terbentuk sebagai hasil samping dari hasil belajar matematika yang benar, karena belajar matematika selalu menuntut ketelitian dan kedisiplinan penggunaan aturan dan prosedur yang telah ditentukan . Sementara itu tentu saja pembentukan sikap dapat diberikan dengan memberikan pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan khusus. Penghayatan dan Pengalaman Pancasila (P4) yang diberikan kepada seluruh siswa sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi.
2. Pengembangan Sikap Selama dalam Jabatan
Pengembangan sikap professional tidak berhenti apabila calon guru selesai mendapatkan pendidikan prajabatan. Banyak usaha yang dapat dilakukan dalam rangka peningkatan sikap professional keguruan dalam masa pengabdiannya sebagai guru.
Seperti telah disebut, peningkatan ini dapat dilakukan dengan cara formal melalui kegiatan mengikuti penataran, lokakarya, seminar, atau kegiatan ilmiah lainnya, ataupun secara informal melalui media massa televisi, radio, koran dan majalah maupun publikasi lainnnya. Kegiatan ini selain dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, sekaligus dapat juga meningkatkan sikap professional keguruan.
D. Syarat-syarat menjadi Guru Profesional
Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan yang gampang, seperti yang dibayangkan sebagian orang, dengan bermodal penguasaan materi dan menyampaikannya kepada siswa sudah cukup, hal ini belumlah dapat dikategorikan guru yang memiliki pekerjaan profesional, karena guru yang profesional harus memiliki berbagai keterampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya, menjaga kode etik guru, dan lain sebagainya.
Seorang guru profesional, dia memiliki keahlian, keterampilan dan kemampuan sebagimana filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”, tidak cukup dengan menguasai materi pembelajaran akan tetapi mengayomi murid, menjadi contoh atau teladan bagi murid serta selaku mendorong murid untuk lebih baik dan maju. Guru profesional selalu mengembangkan dirinya terhadap pengetahuan dan mendalami keahliannya, kemudian guru profesional rajin membaca literatur-literatur dengan tidak merasa rugi membeli buku-buku yang berkaitan dengan pengetahuan yang digelutinya. Guru professional harus memiliki persyaratan, yang meliputi:
1. Memiliki bakat sebagai guru.
2. Memiliki keahlian sebagai guru.
3. Memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi.
4. Memiliki mental yang sehat.
5. Berbadan sehat.
6. Memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas.
7. Guru adalah manusia berjiwa Pancasila.
8. Guru adalah seorang warga negara yang baik.
Menurut penulis peranan guru tidak hanya mendidik anak didepan kelas, tetapi mendidik masyarakat,tempat bagi masyarakat untuk bertanya, baik dalam memecahkan masalah pribadi ataupun masalah sosial. Untuk itu guru harus mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadinya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari uraian yang telah dipaparkan dalam bab pembahasan di makalah ini, maka dapat disimpulkan bahwa sikap seorang guru yang profesional, meliputi sikapnya terhadap:
1) Peraturan Perundang-undangan
2) Organisasi Profesi
3) Teman Sejawat
4) Anak Didik
5) Tempat Kerja
6) Pemimpin, dan
7) Pekerjaan.
Guru memegang tugas ganda yaitu sebagai pengajar dan pendidik. Sebagai pengajar guru bertugas menuangkan sejumlah bahan pelajaran ke dalam otak anak didik, sedangkan sebagaiu pendidik guru bertugas membimbing dan membina anak didik agar menjadi manusia susila yang cakap, aktif, kreatif, dan mandiri.
Guru professional harus memiliki persyaratan, memiliki bakat sebagai guru; memiliki keahlian sebagai guru; memiliki keahlian yang baik dan terintegrasi; memiliki mental yang sehat; berbadan sehat; memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas; guru adalah manusia berjiwa pancasila dan guru adalah seorang warga negara yang baik.
B. Saran
Dari makalah diatas penulis menyarankan sebagai berikut :
a. Guru harus mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadinya.
b. Guru yang profesional setidaknya memenuhi syarat-syarat profesi keguruan dan mengikuti perkembangannya.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Qomari. 2002. Reorientasi Pendidikan Dan Profesi Keguruan. Jakarta : Uhamka Press
http://cahaya-fajeri.blogspot.com/2010/03/makalah-sikap-profesional-keguruan-di.html/diakses:13-10-2012/11:02
Kunandar. 2007. Guru Profesional, Jakarta: Rajawali Pers
Oemar Hamalik. 2001. Proses Belajar Mengajar [online] pada:http://dapah.blogspot.com/2012/07/syarat-syarat-menjadi-guru-profesional.html/diakses:16-10-2012/08:38
Soetjipto dan Kosasi, Raflis. 2000. Profesi Keguruan. Jakarta: Rineka Cipta
Perubahan, Pembaharuan, Penerapan, Pengembangan dan Penyempurnaan Kurikulum
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan. Perubahan tersebut merupakan konsekwensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat. Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945, perbedaanya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian Perubahan Kurikulum ?
2. Apa pengertian Pembaharuan Kurikulum ?
3. Apa pengertian Penerapan Kurikulum ?
4. Apa pengertian Pengembangan Kurikulum ?
5. Apa pengertian Penyempurnaan Kurikulum ?
6. Bagaimanakah perbedaan Perubahan, Pembaharuan, Penerapan, Pengembangan dan Penyempurnaan Kurikulum ?
C. Tujuan Masalah
1. Mengetahui Perubahan Kurikulum ?
2. Mengetahui Pembaharuan Kurikulum ?
3. Mengetahui Penerapan Kurikulum ?
4. Mengetahui Pengembangan Kurikulum ?
5. Mengetahui Penyempurnaan Kurikulum ?
6. Menjelaskan perbedaan pengertian Perubahan, Pembaharuan, Penerapan, Pengembangan dan Penyempurnaan Kurikulum ?
BAB II
PEMBAHASAN
PERBEDAAN PENGERTIAN PERUBAHAN, PEMBAHARUAN, PENERAPAN, PENGEMBANGAN, DAN PENYEMPURNAAN KURIKULUM
A. Tentang Perubahan Kurikulum
Secara konsep, Perubahan kurikulum adalah suatu usaha yang di sengaja. Perubahan kurikulum terjadi karena adanya perbedaan dalam satu komponen kurikulum atau lebih dalam dua periode waktu tertentu. Jadi, Perubahan kurikulum adalah suatu kegiatan atau usaha yang di sengaja untuk menghasilkan kurikulum baru secara lebih baik, yang di dasarkan atas perbedaan satu atau lebih komponen kurikulum dalam dua periode waktu yang berdekatan.
Dalam proses perubahan kurikulum, kurikulum yang formal mengubah pedoman kurikulum relatif lebih terbatas daripada kurikulum riil. Kurikulum yang riil bukan hanya sekedar buku pedoma, melainkan segala sesuatu yang dialami anak dalam kelas, ruang olahraga, warung sekolah, tempat bermain, karyawisata, da banyak yang lainnya, pendek kata mengenai seluruh kehidupan anak sepanjang bersekolah. Dapat dikatakan bahwa perubahan kurikulum berarti merubah semua yang terlibat didalamnya, yaitu guru, murid, kepala sekolah, orang tua dan masyarakat yang berkepentingan dalam pendidikan sekolah. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa perubahan kurikulum adalah perubahan sosial (curriculum change is social change).
B. Tentang Pembaharuan Kurikulum
Berbicara masalah pembaharuan (inovasi) tidak lepas dari istilah invention dan discovery . Invention adalah suatu penemuan sesuatu yang benar-benar baru, artinya hasil kreasi manusia yang sebelumnya belum pernah ada, kemudian diadakan dengan bentuk hasil kreasi baru. Discoveri adalah suatu penemuan sesuatu, yang sesuatu itu sebenarnya telah ada sebelumnya, tetapi semula belum di ketahui orang. Jadi Pembaharuan (inovasi) adalah usaha menemukan sesuatu yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) dengan Invention dan discoveri. Dalam kaitan ini, Ibrahim (1989) mengatakan, bahwa inovasi adalah penemuan yang berupa suatu ide, barang, kejadian, metode, yang di amati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau sekelompok orang (masyarakat).
Dari pengertian di atas dapat di katakan, bahwa Pembaharuan (inovasi) kurikulum adalah suatu gagasan atau praktek kurikulum baru dengan mengadopsi bagian-bagian yang potensial dari kurikulum tersebut dengan tujuan memecahkan masalah atau mencapai tujuan tertentu. Dengan kata lain, pembaharuan itu di ajukan berkenaan dengan ide dan teknis pada skala yang terbatas. Pembaharuan selalu berkaitan denagan masalah kreasi dan atau penciptaan sesuatu yang baru dan menuju ke arah yang lebih baik.
C. Tentang Penerapan Kurikulum
Penerapan adalah pemasangan, pengenaan ; perihal mempraktikkan. Kurikulum berasal dari bahasa Inggris “Curriculum” berarti Rencana Pelajaran. Secara istilah, kurikulum adalah “seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu”.
Dari penjelasan di atas dapat di tarik kesimpulan bahwa Penerapan Kurikulum adalah Upaya mempraktikkan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Atau lebih tegasnya Penerapan kurikulum adalah mentransformasikan program pendidikan kepada siswa dalam prosses pembelajaran.
D. Tentang Pengembangan Kurikulum
Istilah pengembangan menunjukkan pada suatu kegiatan menghasilkan suatu alat atau cara yang baru, dimana selama kegiatan tersebut penilaian dan penyempurnaan terhadap alat atau cara tersebut terus dilakukan. Bila setelah mengalami penyempurnaan-penyempurnaanakhirnya alat atau cara tersebut dipandang cukup mantap untuk digunakan seterusnya, maka berakhirlah pengembangan tersebut. Dengan demikian, pengembangan kurikulum PAI mencakup penyusunan kurikulum itu sendiri, pelaksanaan di sekolah-sekolah yang disertai dengan penilaian yang intensif, dan penyempurnaan-penyempurnaan yang dilakukan terhadap komponen-komponen tertentu dari kurikulum tersebut atas dasar hasil penilaian. Bila kurikulum itu dianggap sudah cukupmantap, setelah mengalami penilaian dan penyempurnaan, maka berakhirlah tugas pengembangan kurikulum tersebut untuk kemudian dilanjutkan dengan tugas pembinaan. Selain itu pengembangan kurikulum PAI berarti perubahan dan peralihan total dari satu kurikulum ke kurikulum lain, dan perubahan ini terjadi dalam jangka waktu yang panjang.
E. Tentang Penyempurnaan Kurikulum
Sebelum mengupas tentang konsep penyempurnaan kurikulum, Kami mencoba mengetengahkan tentang Prinsip Penyempurnaan Kurikulum, Prinsip penyempurnaan kurikulum, yaitu:
a. Penyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat.
b. Dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya
c. Untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
d. Mempertimbangkan berbagai aspek terkait, seperti tujuan materi, pembelajaran, evaluasi, dan sarana/prasarana termasuk buku pelajaran.
e. Tidak mempersulit guru dalam mengimplementasikannya dan tetap dapat menggunakan buku pelajaran dan sarana prasarana pendidikan lainnya yang tersedia di sekolah.
Jadi penyempurnaan kurikulum adalah upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta tuntutan kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya di samping juga untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
Atau lebih tepatnya Penyempurnaan Kurikulum adalah upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
F. Perbedaan Perubahan, Pembaharuan, Penerapan, Pengembangan, dan Penyempurnaan Kurikulum
1. Perubahan Kurikulum
• kegiatan atau usaha yang di sengaja untuk menghasilkan kurikulum baru secara lebih baik
• Di dasarkan atas perbedaan satu atau lebih komponen kurikulum dalam dua periode waktu yang berdekatan
• Perubahanya bisa bersifat sebagian dan bisa juga menyeluruh
Dari tiga poin tersebut dapat kita lihat penekanannya adalah pada usaha menghasilkan kurikulum baru secara lebih baik yang di dasarkan atas adanya perbedaan dalam satu komponen kurikulum atau lebih pada dua periode yang berdekatan, adapun bentuk dari perubahan kurikulum itu bisa sebagian dan juga bisa menyeluruh.
2. Penerapan Kurikulum
• Upaya mempraktikan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
• Mentransformasikan program pendidikan kepada siswa dalam prosses pembelajaran
Dari dua konsep di atas terdapat perbedaan yang sangat mendasar, pada konsep perubahan secara jelas terdapat penekanan tarhadap upaya mengahasilkan, sedang pada konsep Penerapan Penekanannya Upaya Praktek /Transforasi dari apa yang telah di hasilkan dari perubahan di maksud.
3. Pembinaan Kurikulum
Dalam Konsep ini dapat kita lihat poin-poin yang jelas berbeda dengan dua konsep sebelumnya seiring dengan perbedaan penekanan arti dan tujuan yang ada pada masing-masing Konsep. Pada konsep ini lebih cenderung pada:
• Upaya mempertahankan dan menyempurnakan pelaksanaan kurikulum yang ada
• Upaya yang di lakukan dapat bersifat Dasar dan bersifat teknis
Dari sini dapat kita ambil kesimpulan adanya tindak lanjut dari dua konsep sebelumnya, Yakni setelah kita mendapatkan lalu kita praktekkan sebagai bentuk upaya untuk memepertahankan dari apa yang telah kita dapatkan lalu kita melakukan suatu pembinaan
4. Pengembangan kurikulum
Pada konsep perkembangan Kurikulum yang telah di jelaskan di atas dapat di lihat bahwa perkembangan Kurikulum sebagai:
• Suatu proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik
• Di dasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku
• Bertujuan dapat memberikan kondisi belajar-mengajar yang lebih baik
Tiga poin tersebut jelas menunjukkan adanya perbedaan arti dengan Konsep-konsep sebelumnya sesuai dengan tujuan dan hal-hal yang mendasari, sekaligus menunjukkan adanya kemajuan dalam melangkah. Sebab menurut hemat kami pada konsep ini merupakan sebagai upaya melanjutan langkah-langkah yang telah di tempuh pada konsep-konsep sebelumnya.
5. Penyempurnaan Kurikulum
Dalam Konsep penyempurnaan telah di tegaskan beberapa poin penting yang mana hal itu merupakan wujud dinamika kurikulum dalam rangka memenuhi tuntutan dunia pendidikan yang terus maju, seiring perkembangan ilmu Pengetahuan dan teknologi yang semakian maju pesat. Dan dari poin-poin tersebut memperjelas adanya perbedaan antara Kosep Penyempurnaan dengan Kosep sebelumnya. Dalam konsep Penyempurnaan di tegaskan adanya:
• Upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
• Untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa
• Dilakukan untuk mendapatkan proporsi yang tepat antara tujuan yang ingin dicapai dengan beban belajar, potensi siswa, dan keadaan lingkungan serta sarana pendukungnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perubahan kurikulum adalah perubahan sosial (curriculum change is social change).
Pembaharuan (inovasi) adalah usaha menemukan sesuatu yang baru dengan jalan melakukan kegiatan (usaha) dengan Invention dan discoveri.
Penerapan Kurikulum adalah upaya mempraktikkan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Pengembangan kurikulum PAI berarti perubahan dan peralihan total dari satu kurikulum ke kurikulum lain, dan perubahan ini terjadi dalam jangka waktu yang panjang.
Penyempurnaan Kurikulum adalah upaya menyesuaikan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memperoleh kebenaran substansi materi pelajaran dan kesesuaian dengan tingkat perkembangan siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Nasution. 2005. Asas-asas Kurikulum. Bumi Aksara:Jakarta
http://www.fathululum-badruns7.blogspot.com/favicon.ico/diakses:25-02-12/15:02
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1988.
Hedyat Soetopo, dkk. 1982. Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum : Sebagai Subtansi Problem Administrasi Pendidika. Bina Aksara:Jakarta
Perubahan,
Supervisi Pengelolaan Kelas
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyelenggaraan pendidikan terkait dengan peningkatan mutu Sumber Daya Manusia peningkatan. Dalam rangka perbaikan mutu pendidikan, pemerintahbtelah melakukan perbaikan kurikulum, peningkatan mutu guru, penyedian sarana dan prasarana, perbaikan kesejahteraan guru, perbaikan organisasi sekolah, perbaikan manajemen, pengawasan dan perundang-undangan.
Pendidikan merupakan persoalan penting bagi setiap segi kamajuan dan perkembangan manusia pada khusunya dan bangsa pada umumnya. Kemajuan dalam segi pendidikan, maka akan menentukan kualitas sumber daya manusia dan perkembangan bangsa kearah lebih baik dan maju.
Sekolah sebagai lembaga pendidikan yang berperan sebagai salah satu wakil dari pemerintah pusat Indonesia. maka peran sekolah kewajiban untuk dapat mencapai tujuan pendidikan nasional. Dalam organisasi sekolah, kedudukan kepala sekolah merupakan faktor penentu, pengerak segala sumber daya yang ada dalam sekolah, agar segala komponen yang di dalamnya dapat berfungsi secara maksimal dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kepala sekolah berfungsi sebagai edukator, manajer, administrator, leader, motivator dan supervisor sekolah.
B. Rumusan masalah
1. Apa definisi dari supervisi kelas ?
2. Apa saja teknik supervisi kelas ?
3. Apa prinsip-prinsip supervisi kelas ?
4. Apa fungsi dan peran supervisi kelas ?
5. Apa problem dalam supervisi kelas ?
C. Tujuan masalah
1. Dapat mengetahui definisi dari supervisi kelas
2. Dapat mengetahui teknik supervisi kelas
3. Dapat mengetahui prinsip-prinsip supervisi kelas
4. Dapat mengetahui fungsi dan peran supervisi kelas
5. Dapat mengetahui problem dalam supervisi kelas
BAB II
PEMBAHASAN
SUPERVISI PENGELOLAAN KELAS
A. Pengertian Supervisi kelas
Supervisi secara etimologi berasal dari kata super dan visi yang mengandung arti melihat dan meninjau dari atas atau menilik dan menilai dari atas yang dilakukan oleh pihak atasan terhadap aktifitas, kreativitas, dan kinerja bawahan. Terdapat beberapa istilah yang hampir sama dengan supervisi, bahkan dalam pelaksanaannya istilah-istilah tersebut sering digunakan secara bergantian. Istilah-istilah tersebut antara lain: pengawasan, pemeriksaan, dan inspeksi. Pengawasan mengandung arti suatu kegiatan untuk melakukan pengamatan agar pekerjaan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan. Pemeriksaan dimaksudkan untuk melihat bagaimana kegiatan yang dilaksanakan telah mencapai tujuan. Inspeksi dimaksudkan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan atau kesalahan yang perlu diperbaiki dalam suatu pekerjaan.
Menurut P. Adams dan Frank G. Dickey, supervisi adalah program yang berencana untuk memperbaiki pengajaran. Inti dari supervisi pada hakekatnya adalah memperbaiki hal belajar dan mengajar. Program ini dapat berhasil bila supervisor memiliki ketrampilan (skill) dan cara kerja yang efisien dalam kerjasama dengan orang lain (guru dan petugas pendidikan lainnya).
Sedangkan menurut Burton dan Brueckner, supervisi kelas adalah suatu teknik pelayanan yang tujuan utamanya mempelajari dan memperbaiki secara bersama-sama faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pendapat lain juga mengatakan bahwasannya supervisi kelas adalah setiap layanan kepada guru-guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan intruksional, layanan belajar, dan pengembangan kurikulum. Selain itu Kimball wiles juga mengemukakan bahwa supervisi kelas adalah suatu bantuan dalam pengembangan dan peningkatan situasi pembelajaran yang lebih baik. Pendapat ini ini sejalan dengan N.A. Amatembun yang mengemukakan supervisi kelas adalah pembinaan kearah pebaikan situasi pendidikan. Perbaikan ini difokuskan pada kinerja pembelajaran, sehingga guru secara profesional memberikan bantuan dan layanan.
Dalam buku lain di jelaskan bahwasannya Supervisi merupakan kegiatan akademik yang harus dijalankan oleh mereka yang mempunyai pemahaman mendalam tentang kegiatan yang di supervisinya. Kegiatan supervisi harus dijalankan oleh orang yang dapat melihat berdasarkan kenyataan yang ada dan kemudian di bawa kepada kegiatan yang seharusnya, yaitu kegiatan semestinya yang harus dicapai.
Posisi dan kedudukannya lebih tinggi dan lebih baik dari orang yang diawasinya. Supervisi adalah pengawas profesional dalam bidang akademik, dijalankan berdasarkan kaidah-kaidah keilmuwan tentang bidang kerjanya, memahami tentang pembelajaran lebih mendalam dari sekadar pengawas biasa.
Dengan demikian hakekat supervisi kelas adalah suatu aktivitas proses pembimbingan untuk memperbaiki situasi belajar mengajar agar para peserta didik dapat belajar secara efektif dan efisien dengan prestasi dan mutu belajar yang semakin meningkat.
B. Teknik Supervisi Kelas
Dalam rangka melaksanakan supervisi kelas diperlukan adanya teknik supervisi. Hal ini dimaksudkan untuk memperlancar dan mempermudah pelaksanaan supervisi.
Ada bermacam-macam teknik supervisi dalam upaya pembinaan kemampuan guru yaitu :
1. Teknik supervisi yang bersifat kelompok
Yang dimaksud teknik-teknik yang bersifat kelompok ialah teknik-teknik yang digunakan bersama-sama oleh supervisor dengan sejumlah guru dalam satu kelompok. Berbagai teknik dapat di gunakan untuk supervisi dalam membantu guru meningkatkan situasi belajar mengajar, baik secara kelompok maupun secara perorangan ataupun dengan cara langsung taupun tidak langsung.
Teknik- tenik supervisi yang bersifat kelompok yang di introduksir oleh Pangaribuan dari berbagai pendapat ahli antara lain dengan cara melakukan:
a) Pertemuan orientasi
Pertemuan ini bertujuan khusus mengantar guru-guru untuk memasuki suasana kerja yang baru. Hal-hal yang di sajikan dalam pertemuan ini meliputi:
1. Sistem kerja sekolah
2. Proses dan mekanisme administrasi dan organisasi sekolah
3. Biasanya disringi dengan tanya jawab dan penyajian seluruh kegiatan dan situasi sekolah
4. Sering juga pertemuan ini di ikuti dengan tindak lanjut dalam diskusi kelompok, lokakarya selama beberapa hari sepanjang tahun.
5. Ada juga melalui perkunjungan ketempat-tempat tertentu
6. Pembinaan segi sosial dalam orientasi ini ialah makan bersama
7. Tempat pertemuan mempengaruhi orientasi
8. Terciptanya suasana kerja yaitu bahwa guru baru itu tidak merasa asing tetapi ia merasa di terima dalam kolmpok guru lain.
Burton mengemukakan bahwa pertemuan orientasi ini merupakan juga pertemuan untuk merencanakan program sekolah. Sebab orientasi ini biasanya di hubungkan dengan rencana pendidikan yang akan dilaksanakn sekolah sepanjang tahun ajaran.
b) Rapat guru latih
Rapat guru banyak sekali jenisnya, baik dilihat dari sifatnya, jenis kegiatan, tujuan, maupun orang-orang yang menghadirinya. Rapat guru latih akan menghasilkan guru yang baik, jika direncanakan dengan baik, dilaksanakan sesuai dengan perencanaan, dan ditindaklanjuti sesuai dengan kesepakan yang dicapai dalam rapat.
Adapun masalah pokok yang perlu direncanakan ialah:
1. Penetapan problema yang akan menjadi inti rapat
2. Menetapkan tempat dan waktu dengan segala fasilitas yang di perlukan
3. Memperhitungkan jumlah peserta
4. Menetapkan pemimpin rapat dan notulen
5. Menetapkan masalah pembiayaan jika di perlukan
6. Menetapkan pembagian tugas dan pengorganisasian.
Dengan perencanaan dan pelaksanaan sedemikian itu diharapkan tujuan rapat, sebagai teknik supervisi kelas, bagi guru latih dapat tercapai secara maksimal. Tujuan yang dimaksud menurut shertian ialah menyatukan pandangan-pandangan guru latih tentang suatu masalahdan proses sekolah dalam mencapai tujuan pendidikan, mendorong guru latih menerima dan melaksankan tugas-tugasnya dengan baik, serta menyatukan pendapat tentang metode kerja yang akan membawa mereka ke arah pencapai tujuan pengajaran yang maksimal di lembaga pendidikan tersebut.
Hal ini dapat di capai jika kemampuan pimpinan rapat dalam memimpin dengan cara demokrasi, aspiratif, fokus pada persoalan dan akomodatif.
c) Studi kelompok antar guru
Guru-guru dalam mata pelajaran sejenis berkumpul bersama untuk mempelajari suatu masalah atau sejumlah bahan pelajaran. Pokok bahasan telah di tentukan dan di perinci dalam garis-garis besar atau dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan pokok yang telah disusun secara teratur. Untuk mempelajari bahan-bahan dapat dipergunakan bermacam-macam teknik berkomunikasi. Untuk memperkaya bahan-bahan itu di perlukan cukup banyak sumber-sumber buku.
Semua aktivitas tersebut perlu diketahui dan dikendalikan oleh supevisor agar kegiatan tidak berubah menjadi ngobrol hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan materi. Kehadiran supervisor dapat mendorong perolehan hasil yang maksimal. Dengan demikian studi kelompoknantar guru penting di lakukan untuk meningkatkan kualitas penguasaan materi pelajarn dan kualitas dalam memberi layanan belajar.
d) Diskusi sebagi Pertukaran pikiran atau pendapat
Diskusi merupakn salah satu alat bagi supervisor untuk mengembangkan berbagai ketrampilan pada diri para guru yang berlatih menghadapi berbagai masalah atau kesulitan dengan cara melakukan tukar pikiran antara satu dengan yang lainnya. Melaui teknik ini supervisor dapat membantu para guru latih untuk saling mengetahui, memahami atau mendalami suatu permasalahan, sehingga secara bersama-sama akan berusaha mencari altenatif pemecahan masalah tersebut. Sebagai seorang pemimpin diskusi, supervisor harus mampu menerapkan kepemimpinan yang efektif yang dapat membuat setiap anggota diskusi mau berpartisipasi secara sukarela selama diskusi berlangsung.
Agar pengalaman dan wawasan supervisor lebih baik di banding guru, maka sangat di harapkan bahwa supervisor lebih rajin membaca buku-buku sumber yang membahas seluk beluk kepemimpinan dan buku-buku yang relevan. Faktor kepemimpinan yang dilakukan suprvisor merupakan salah satu penentu berhasil tidaknya suatu diskusi. Oleh karen aitu suprvisor sebagai pemimpin diskusi harus memiliki ketrampilan diskusi.
e) Lokakarya
Lokakarya atau yang sering di sebut workshop dapat diartikan sebagai kegiatan belajar kelompok yang terdiri dari sejumlah petugas pendidikan yang sedang memecahkan suatu masalah melalui percakapan dan bekerja secara kelompok maupun bersifat individu.
2. Teknik Individual dalam supervisi
Teknik Individual menurut Sahertian adalah teknik yang digunakan pada pribadi seorang guru latih yang mengalami masalah khusus dan memerlukan bimbingan tersendiri dari supervisor.
Teknik-teknik supervisi yang bersifat individual antara lain yaitu:
a. Kunjungan kelas
Yakni suatu kunjuangn yang dilakukan supevisor (kepala sekolah) kedalam suatu kelas pada saat guru latih sedang mengajar dengan dengan tujuan untuk membantu guru yang bersangkutan menghadapi masalah selama mengadakan kegiatan pembelajaran. Kunjungan kelas dapat dilakukan dengan tiga cara yaitu kunjungan kelas tanpa pemberitahuan dahulu, kunjungan dengan pemberitahuan terlebih dahulu, dan kunjungan atas undangan guru latih, yang artinya guru latihlah yang mengundang supervisor untuk mengunjungi kelas pada saat pelajaran berlangsung.
b. Observasi kelas
Obesrvasi kelas dilakukan bersamaan dengan kunjungan kelas adalah suatu kegiatan yang dilakukan supervisor untuk mengamati guru latih yang sedang mengajar di suatu kelas. Selama berada di kelas supervisor melakukan pengamatan yang teliti, dengan menggunakan intrumen tertentu, terhadap suasana kelas yang diciptakan dan dikembangakan oleh guru latih selama jam pelajaran berlangsungb dengan tujuan untuk memperoleh data yang objektif.
c. Percakapan pribadi
Yakni suatu teknik dalam pemberian layanan kepada guru latih dengan mengadakan pembicaraan tentang masalah yang dihadapi guru latih. Umumnya materi yang dipercakapkan adalah hasil-hasil kunjungan kelas dan observasi yang dilakukan oleh supervisor. Dalam percakapan ini ia berusaha menyadarkan guru latih akan kelebihan dan kekurangannya. Mendorong agar menjadi lebih baik dari sebelumnya.
d. Inter-visitasi
Kunjungan antar kelas dalam satu sekolah atau antar sekolah sejenis merupakan suatu kegiatan yang terutama saling menukarkan pengalaman sesama guru atau kepala sekolah tentang usaha perbaikan dalam proses belajar mengajar. Manfaatnya dapat saling membandingkan dan belajar atas keunggulan dan kelebihan berdasarkan pengalaman masing-maing. Sehingga masing-masing dapt memperbaiki kualitas guru memberi layanan belajar kepada peserta didiknya.
e. Penyeleksi berbagai sumber materi untuk mengajar
Dalam hal ini tugas seorang supervisor pendidikan adalah mempelajari secara obyektif dan terus menurus tentang proses belajar mengajar dan atas dasar itu ia memberikan pelayanan atau bimbingan profesional yang diperlukan kepada guru-guru. Seorang supervisor harus mempunyai kemampuan untuk menyeleksi berbagai sumber materi yang di gunakan guru untuk mengajar. Kegiatan menyeleksi ini dilakukan dengan cara bedah kurikulum di mulai dengan menganalisis standar kompetensi dan kompetensi dasar serta materi pelajaran yang dirumuskan oleh guru dalam silabus mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
Supervisor bersama guru mengidentifikasi masalah kesulitan guru dalam kegiatan belajar mengajar, yang pada akhirnya di temukan bersama model perbaikan dan pengembangan pembelajaran. Pemecahan masalah ini, dilakukan dengan catra dialog profesional antara supervisor dengan guru untuk mengkaji ide baru. Sehingga, ditemukan cara perbaikan dan pengembangan kegiatan belajar mengajar.
f. Menilai diri sendiri
Dalam teknik ini, guru latih sendiri melakukan penilaian terhadap penampilannya pada saat sedang mengajar dengan melakukan penilaian terhadap penampilannya pada saat sedang mengajar denagn meminta para pserta didiknya mengamati, mengomentari, dan menilai tindakan-tindakan atau perilaku yang di tampilkannya selama mengajar.
3. Perilaku supervisor yang bisa diharapkan
Salah satu pendukung keberhasilan dalam melaksanakan supervisi ialah perilaku supervisor sendiri. Faktor manusia dibelakang tugas mempunyai pengaruh besar dalam keberhasilan misi supervisi. Supervisi yang berhasil adalah mereka yang dapat melaksanakan tugasnya berkenaan dengan diri supervisee (orang yang berkenaan dengan supervisi).
Sifat utama yang harus dimiliki supervisor terdiri dari:
a) Sifat yang berhubungan dengan kepribadiannya
Supervisor harus meningkatkan kesadaran akan perlunya meningkatkan kualitas diri secara terus menurus. Itulah sebabnya supervisor harus memiliki kepribadian antara lain: memperhatikan perbuatan nyata dalam segala hal, bertindak sesuai dengan waktu dan tempatnya dalam segala hal, keterbukaan tidak menyembunyikan seseuatu yang dirahasiakan, tidak kehabisan inisiatif, tekun dan ulet dalam mengerjakan pekerjaan, dan mempunyai daya tahan dan psikis yang tinggi, tidak cepat putus asa. Dengan demikan inilah pengalaman yang mendapat pengakuann bahwa supervisor itu mumpuni bidang pembelajaran.
b) Sifat yang berhubungan dengan profesi
Sikap yang ditampilkan oleh supervisor harus menunjukkan semangat ingin mengetahui dengan lebih mendalam perihal profesi guru. Disamping memiliki kepribadian yang teruji, seorang supervisor juga harus teruji kemampuannya merumuskan hipotesis-hipotesis yang bermutu. Kemampuan ini ditampakkan pada kemampuannya menghargai produk-produk intelektual dan meningkatkan kinerja profesional guru pembelajaran.
c) Sifat-sifat supervisor yang dikehendaki “supervisee”
Menurut pendapat dan harapan supervisee atau para guru yang disupervisi, mereka membutuhkan Supervisor yang dapat memberikan bantuan kesulitan guru dalam melaksanakan tugas pengajaran. Kesulitan-kesulitan guru yang perlu di bantu oleh supervisor antara lain dalam menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan. Guru perlu di bantu untuk memahami standar isi dan menurunkannya menjadi silabus mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya.
Adapun yang diharapkan oleh supervisee kepada supervisor adalah hendaknya supervisor :
1. Mempunyai perhatian terhadap segala kegiatan disekolah
2. Bersifat simpatik yang tinggi terhadap murid dan guru dalam pembelajaran
3. Mempunyai sikap terbuka dan lugas
4. Mempunyai daya humor yang mendidik
5. Percaya diri
6. Tidak terlalu mencari masalah-masalah kecil
7. Dapat mengajak dan menimbulkan rasa ingin tahu pada yang di supervisinya
8. Kritis dan luas pengetahuannya
9. Dapat mengemukakan ide-ide baru yang konstruktif
10. Fisik sehat dan terpelihara, serta berpakaian rapih dengan tampilan yang menarik.
Harapan ini adalah sesuatu yang sangat situasional, artinya tidaklah seluruhnya secara simultan di tampakkan.
d) Supervisor yang demokratis harapan semua pihak
Supervisor yang demokratis mempunyai daya kritis yang tinggi, mengetahui secara detail problem pengajaran. Profil yang demikian ini diharapkan selalu berusaha secara kontinyu menjalin pertalian dan kesatuan yang optimal di antar guru-gurunya.
Oleh karena itu sebagai solusinya harus tampil sebagai supervisor yang bersikap demokratis yang membangun kreatifitas dan inovatif dalam pembelajaran. Supervisor pendidikan dilaksanakan di sekolah dengan melaksanakan berbagai aktifitas yang dapat membantu supervisor membina situasi belajar mengajar melalui pemberian pelayanan kepada tenaga-tenaga kependidikan yang ada di sekolah.
4. Diskusi panel
Adalah suatu bentuk diskusi yang dipantaskan dihadapan sejumlah partisipan atau pendengar. Dalam diskusi tersebut suatu masalah dihadapkan kepada sejumlah ahli yang memiliki keahlian di bidang masalah yang sedang di diskusikan. Karena itulah bentuk diskusi ini sering di sebut dengan percakapan tingkat tinggi atau glorified corversation.
5. Seminar sebagai pendalam masalah
Seminar adalah suatu rangkaian kajian yang dikikuti oleh suatu kelompok pertemuan ilmiah untuk mendiskusikan, membahas, dan memperdebatkan suatu masalah yang berhubungan dengan suatu topik. Baik teoritis maupun praktis dibawah pimpinan seorang ketua sidang dan disajikan kepada audiens. Dalam seminar berbagai masalah dapat dibahas, seperti bagaimana menyusun silabus yang mengacu standart isi, bagaimana cara mengatasi anak-anak yang selalu membuat keributan di kelas, bagaiman membantu anak-anak yang menampilkan tingkah laku yang menyimpang, bagaiman upaya meningkatkan kreativitas guru latih dalam kegiatan pembelajaran.
6. Simposium sebagai sarana bertukar pikiran
Simposium adalah suatu pertemuan yang dalam pertemuan itu ada beberapa pembicara menyampaikan pikirannya secara singkat mengenai suatu topik, atau topik-topik yang berkaitan dengan problematika mengajar. Dapat diartikan juga sebagai sekumpulan karangan pendek tentang sesuatu pokok masalah yang ditulis sejumlah ahli dan diterbitkan menjadi buku. Dalam praktiknya supervisor dapat memanfaatkan para ahli dari perguruan tinggi sebagai narasumber untuk membahas topik tertentu yang telah disepakati bersama guru binaanya.
7. Demonstrasi mengajar
Adalah satu upaya supervisor membantu supervisee dengan menunjukkan kepada mereka bagaimanan mengajar yang baik. Dengan demonstrasi mengajar, supervisor mempraktekkan penggunaan metode-metode mengajar yang tepat, atau metode mengajar yang baru, atau penggunaan alat-alat bantu mengajar, penggunaan alat evaluasi, dan sebagainya. Selama demostrasi berlangsung, para guru latih mencatat dengan teliti apa yang ditampilkan oleh supervisor dan catatan itu nanti akan didiskusikan bersama dengan peninjau-peninjau lainnya, para guru latih, dan supervisor sendiri setelah demonstrasi selasai.
Teknik ini memang efektif dalam situasi tertententu, namun pada situasi yang lain teknik ini mengandung banyak kelemahan terutama jika supervisor merupakan pihak yang di angakat karena jabatan dan pengalaman bukan karena kemahiran atau kepemilikannya atas kemampuan dan ketrampilan mengajar.
8. Buletin supervisi sebagai salah satu alat komunikasi
Buletin supervisi adalah salah satu bentuk alat komunikasi dalam bentuk tulisan yang dikeluarkan oleh staf supervisor yang digunakan sebagai alat membantu guru latih-guru latih dalam memperbaiki situasi belajar mengajar.
Masih banyak lagi teknik-teknik yang bersifat kelompok yang dapat dikembangkan oleh supervisor dalam membantu guru untuk berlatih dan personalia pendidikan lainnya untuk meningkatkan kemampuan memperbaiki situasi belajar mengajar.
C. Prinsip-prinsip Supervisi kelas
Berikut ini merupakan prinsip-prinsip utama yang harus diperhatikan dalam supervisi kelas yang meliputi:
1. Ilmiah, artinya kegiatan supervisi yang dikembangkan dan dilaksanakan harus sistematis, obyektif, dan menggunakan instrumen atau sarana yang memberikan informasi yang dapat dipercaya dan dapat menjadi bahan masukan dalam mengadakan evaluasi terhadap situasi belajar mengajar.
2. Kooperatif, program supervisi kelas dikembangkan atas dasar kerjasama antar supervisor dengan orang yang disupervisi. Dalam hal ini supervisor hendaknya dapat bekerjasama dengan guru, peserta didik, dan masyarakat sekolah yang berkepentingan dalam meningkatkan kualitas belajar mengajar.
3. Konstrukti dan kreatif, membina para guru untuk selalu mengambil inisiatif sendiri dalam mengembangkan situasi belajar mengajar.
4. Realistik, pelakasanaan supervisi kelas harus memperhitungkan dan memperhatikan segala sesuatu yang benar-benar ada di dalam situasi dan kondisi yang obyektif.
5. Progresif, setiap kegiatan yang dilakukan tidak terlepas dari ukuran dan perhatian. Artinya apakah yang dilakukan oleh guru dapat melahirkan pembelajaran yang maju atau semakin lancaranya kegiatan belajar mengajar.
6. Inovatif, program supervisi kelas selalu melakukan perubahan dengan penemuan-penemuan baru dalam rangka perbaikan dalam rangka perbaikan dan peningkatan mutu pendidikan.
Dari prinsip tersebut dapat meningkat kinerja guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Masalah yang dihadapi dalam melaksanakan supervisi dilingkungan pendidikan ialah bagimana cara mengubah pola pikir yang bersifat otokrat dan korektif menjadi sikap yang konstruktif dan kreatif. Suatu sikap yang menciptakan situasi dan relasi dimana guru-guru merasa aman dan merasa diterima sebagai subyek yang dapat berkembang sendiri. Untuk itu supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang obyektif.
Pelakasanaan supervisi kelas perlu menyesuaikan diri dengan prinsip-prinsip yang telah ditentukan. Dengan cara memahami dan menguasai dengan seksama tugas dan tanggung jawab guru sebagai tenaga pendidikan profesional yang harus melaksanakan kegiatan pengajaran dan pendidikan. Jika sikap supervisor memaksakan kehendak, menakut-nakuti, perilaku negatif lainnya, maka akan menutup kreativitas bagi guru. Jika sikap supervisor hanya seperti itu, maka ia belum mengetahui tugas pokok fungsi sebagai seorang seorang supervisor.
D. Fungsi dan Peranan Supervisi kelas
Fungsi supervisi kelas adalah sebagai layanan atau bantuan kepada guru untuk mengembangkan situasi belajar mengajar. Konsep supervisi sebenarnya diarahkan kepada pembinaan. Artinya kepala sekolah, guru dan para personel lainnya di sekolah diberi fasilitas untuk meningkatkan kemampuannya dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.
Menurut Anwar dan Sagala Supervisor mempunyai fungsi-fungsi utama, antara lain:
1. Menetapkan masalah yang betul-betul mendesak untuk ditanggulangi.
2. Menyelenggarakan inspeksi, yaitu sebelum memberikan pelayanan kepada guru, supervisor lebih dulu perlu mengadakan inspeksi sebagai usaha mensurvai seluruh sistem yang ada.
3. Memberikan solusi terhadap hasil inspeksi yang telah di survai
4. Penilaian
5. Latihan, dan
6. Pembinaan atau pengembangan.
Dilihat dari fungsi yang telah ada, tampak jelas peranan supervisi kelas. Peranan supervisi dapat dikemukakan oleh berbagai pendapat para ahli yang menyimpulkan tetang tugas dan fungsi supervisor :
a) Koordinator, sebagai koordinator supervisor dapat mengkoordinasi program-program belajar mengajar, tugas-tugas anggota staf berbagai kegiatan yang berbeda-beda diantara guru-guru.
b) Konsultan, sebagai konsultan supervisor dapat memberikan bantuan, bersama mengkonsultasikan masalah yang dialami guru baik secara individual maupun secara kelompok.
c) Pemimpin kelompok, supervisor dapat memimpin sejumlah staf guru dalam mengembangkan potensi kelompok, pada saat mengembangkan kurikulum, materi pelajaran dan kebutuhan profesional guru secara bersama-sama.
d) Evaluator, supervisor dapat membantu guru dalam menilai hasil dan proses belajar, dapat menilai kurikulum yang sedang dikembangkan.
E. Problem dalam supervisi kelas
Ketidak efektifan kinerja supervisi disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah :
a. Supervisi disamakan dengan kontroling atau pekerjaan pengawas. Supervisor lebih banyak mengawasi dari pada berbagi ide untuk menyelesaikan permasalahan. Akibatnya guru menjadi takut jika untuk diawasi dan dievaluasi
b. Kepentingan dsan kebutuhan supervisi bukannya datang dari para guru, melainkan supervisor sendiri menjalankan tugasnya.
c. Supervisor kurang memahami apa yang menjadi tugasnya, sedangkan guru tidak tanggap dengan permasalahannya.
d. Secara umum, guru tidak suka disupervisi walaupun hal itu merupakan bagian dari proses pendidikan.
Dampak penyebab di atas berakibat peran supervisi dalam organisasi lembaga pendidikan menjadi lemah, kurang efisien dan efektif. Artinya tidak hanya dari satu pihak saja yang diberikan beban ketidakberhasilan sebuah pendidikan. Kinerja supervisi juga harus dilakukan dengan profesional dan kompeten serta mempunyai visi misi yang luas untuk memperbaiki dan membantu para guru.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Supervisi kelas adalah pembinaan kearah pebaikan situasi pendidikan. Perbaikan ini difokuskan pada kinerja pembelajaran, sehingga guru secara profesional memberikan bantuan dan layanan. Ada bermacam-macam teknik supervisi dalam upaya pembinaan kemampuan guru yaitu :
1. Teknik supervisi yang bersifat kelompok
2. Teknik Individual dalam supervisi
3. Perilaku supervisor yang bisa diharapkan
4. Diskusi panel
5. Seminar sebagai pendalam masalah
6. Simposium sebagai sarana bertukar pikiran
7. Demonstrasi mengajar
8. Buletin supervisi sebagai salah satu alat komunikasi
Berikut ini merupakan prinsip-prinsip utama yang harus diperhatikan dalam supervisi kelas yang meliputi: Ilmiah, kooperatif, konstruktif, kreatif, realistik, progresif, inovatif
Menurut Anwar dan Sagala Supervisor mempunyai fungsi-fungsi utama, yaitu : menetapkan masalah yang betul-betul mendesak untuk ditanggulangi, menyelenggarakan inspeksi, memberikan solusi terhadap hasil inspeksi yang telah di survai, penilaian, latihan, dan pembinaan atau pengembangan.
Peranan supervisi dapat dikemukakan oleh berbagai pendapat para ahli diantaranya: Koordinator, Konsultan, Pemimpin kelompok dan Evaluator.
B. Saran
Alhamdulillah atas izin Allah SWT. akhirnya makalah ini dapat terselasaikan. Demi kesempurnaan pada makalah selanjutnya, oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan guna perbaikan lebih lanjut.
Daftar Pustaka
Sagala, Syaiful. 2011. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: CV. Alfabeta
Sahertian, Piet A dan Frans Mataheru. 1981. Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan. Surabaya: Usana Offset Printing
________. 2000. Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan dalam Rangka pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta, 2000
Suhardan, Dadang. 2010. Supervisi Profesional. Bandung : Al-Fabeta
http://hidayah-cahayapetunjuk.blogspot.com/2012/10/supervisi-dalam-pengelolaan-kelas.html/Diakses:14-12- 2012/10:26:11
http://www.majalahpendidikan.com/2011/04/prinsip-fungsi-dan-peran-supervisi.html/diakses:16-12-2012/19:26:46
Politik Dalam Pandangan Islam
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tentunya sebagai agama yang mencakup segala aspek kehidupan, islam tidaklah melupakan atau meninggalkan permasalahan yang berkaitan dengan aspek politik. Bahkan sebagian para Ulama’ ada yang sampai mengeluarkan statement unik terkait dengan hal tersebut.
Untuk lebih memperjelas pemahaman kita tentang Pandangan Islam terhadap Politik, maka penulis mencoba memaparkannya dalam makalah ini.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari Politik ?
2. Bagaimana pandangan Islam terhadap Politik ?
3. Bagaimana Politik yang bernuansa Islam ?
C. Tujuan Masalah
1. Menjelaskan tentang pengertian Politik
2. Menjelaskan tentang pandangan Islam terhadap Politik
3. Menjelaskan tentang Politik yang bernuansa Islam
BAB II
PEMBAHASAN
HUBUNGAN AGAMA DENGAN POLITIK
A. Pengertian Politik
Secara historis, istilah politik diambil dari bahasa yunani atau latin yaitu politicos atau politicus. Keduanya berasal dari kata “police” yang berarti kota atau hubungan antar warga (relating to citizen). Adapun secara terminologis, politik berarti segala urusan dan tindakan (kebijaksanaannya, siasat, dan sebagainya) mengenai pemerintahan Negara atau terhadap Negara lain.
Istilah lain yang sebanding dengan kata politik adalah siyasah yang berarti kuda liar yang mengendung makna perubahan dari suatu kondisi yang sedang menuju kondisi yang lebih baik. Dalam hal ini pemerintah bertindak sebagai guru dan pemimpin dan inilah yang dikenal dengan istilah siyasah.
Adapun arti dari ilmu politik adalah ilmu yang mengetahui tentang macam-macam kekuasaan, perpolitikan sosial dan sipil, keadaan-keadannya: seperti keadaan para penguasa, raja-raja, pemimpin, hakim, ulama, ekonom, penanggung jawab baitul mal dan yang lainnya.
Sedangkan arti islam adalah akidah dan ibadah, akhlak dan syariat yang lengkap. Dengan kata lain, islam merupakan tatanan yang sempurna bagi kehidupan individu, urusan keluarga, tata kemasyarakatan, prinsip pemerintahan, hubungan internasional. bahkan bagian ibadah dalam fiqih itupun tidak lepas dari politik. Islam memiliki kaidah-kaidah, hokum-hukum, dan pengarahan-pengarahan dalam politik pendidikan, politik informasi, politik perundang -undangan politik hukum, politik kehartabendaan, politik perdamaian, politik peperangan dan segala sesuatu yang berpengaruh terhadap kehidupan. Maka tidak bias di terima kalau islam di anggap nihil dan pasif bahkan menjadi pelayan bagi filsafat atau ideology lain.
Islam adalah agama yang mengikat segala sesuatunya dengan aturan agama begitu pula dalam urusan politik ini. Islam tidak mengenal adanya penghalalan segala cara untuk mencapai tujuan meskipun tujuan itu mulia. Islam tidak hanya melihat hasil tetapi juga proses untuk mendapatkan hasil. Oleh karena itu di dalam berpolitik pun seorang politisin maupun pemimpin islam diharuskan berpegang dengan rambu-rambu syariah dan akhlak mulia. Dengan kata lain bahwa segala cara berpolitik yang bertentangan dengan syariah atau melanggar norma-norma agama dan akhlak islam maka dilarang.
Adapun Ayat Al-qur’an yang dijadikan dasar kepemimpinan sekaligus dijadikan dasar ketaatan para pengikut terhadap pemimpinnya adalah :
يَآاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْآ أَطِيْعُوا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَأُولِى اْلأَََمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ ( النسآء : 59 )
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang yang berkuasa diantara kamu, maka sekiranya diantara kamu berbantahan dalam suatu perkara hendaklah kamu kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. (Q.S. An-Nisa’ : 59 )
Ayat ini menjelaskan bahwa seorag pemimpin yang terpilh wajib diikuti dan ditaati selama tidak keluar dari garis ajaran serta hukum-hukum yang terkandung didalamnya.
B. Pandangan Islam terhadap Politik
Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya seumur-umur belum pernah ikut pemilu, apalagi membangun dan mengurusi partai politik. Realita seperti ini sudah disepakati oleh semua orang, termasuk ahli sejarah , para ulama’, dan semua umat Islam. Dengan realita seperti ini sebagian kalangan lalu mengharamkan pemilu dan mendirikan partai. Alasannya, karena tidak ada contoh dari Nabi Muhammad SAW. juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat Beliau yang Mulia. Bahwa sampai sekian generasi berikutnya, tidak pernah ada pemilu dan pendirian partai politik dalam sejarah Islam. Bahkan sebagian dari mereka sampai mengeluarkan statement unik yaitu bahwa ikut pemilu dan menjalankan partai merupakan sebuah bid’ah dhalalah, dimana pelakunya pasti masuk Neraka. Ditambah lagi pandangan sebagian mereka bahwa sistem pemilu, partai politik, dan ide demokrasi merupakan hasil pemikiran orang-orang kafir. Sehingga semakin haram saja hukumnya.
Tentu saja pendapat seperti ini bukan satu-satunya buah pikiran yang muncul di kalangan umat. Sebagian lain dari elemen umat ini punya pandangan berbeda.
Mereka tidak mempermasalahkan bahwa dahulu Rasulullah SAW. dan para sahabat tidak pernah ikut pemilu atau berpartai sebab pemilu dan partai hanyalah sebuah fenomena zaman tertetu dan bukan esensi. lagipula tidak ikutnya Beliau SAW dan tidak mendirikan partai bukanlah dalil yang sharih dari haramnya kedua hal itu. Bahwa asal usul pemilu, partai dan demokrasi yag konon dari orang kafir tidak otomatis menjadikan hukumnya haram.
Dan kalau mau jujur memang tidak ada satupun ayat Al-qur’an atau Hadits Nabi SAW yang secara dhahir mengharamkan partai politik. Pemilu dan demokrasi. Kalaupun ada fatwa yang mengharamkan atau membolehkan semua berangakt dari Istimbath hukum yang panjang.
Manusia hanya di beri kekuasaan yang bersifat sementara. Kekuasaan bagi manusia adalah amanah dari allah SWT. Dan kekuasaan itupun akan di mintai pertanggung jawaban.rasulullah SAW pernah4 bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ( رواه البخاري ومسلم )
Artinya: “setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan di Tanya tentang kepemimpinannya.
C. Politik yang Bernuansa Islami
Menurut pendapat Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz tentang bagaimana politik yang bernuansa islami :
a. Tentang dasar Syari’ah pencalonan legislatif untuk DPR
Beliau berkata Rasulullah pernah bersabda :
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
Artinya:“Bahwa setiap amal itu tergantung pada Niatnya.”
Setiap orang akan mendapatkan apa yang diniatkannya. Oleh karena itu tidak ada masalah untuk masuk ke parlemen bila tujuannya memang membela kebenaran dan dakwah kepada Allah swt.
b. Tentang Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dalam bidang Politik
Beliau mengatakan bahwa dakwah kepada Allah SWT itu wajib mutlak dimanapun kita berada. Begitu juga dengan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, namun harus dilakukan dengan himmah, perkataan yang lembut, bukan dengan cara yag kasar dan arogan. Misalnya saja dengan mengatakan : wahai hamba Allah, ini tidak boleh semoga Allah SWT memberimu petunjuk, wahai saudaraku ini tidak boleh karena Allah berfirman tentang masalah ini, begini...., dan Rasulullah SAW bersabda dalam masalah itu, sebagaimana firman Allah SWT,:
اُدْعُ إِلَى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ وَالْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ ( النحل : 125 )
Artinya: Serulah kepada jalan dan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik sesungguhnya tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalannya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS.an-nahl:125)
c. Tentang hukum masuknya para Ulama’ ke DPR dan parlemen
Tentang hukum masuknya para Ulama’ ke DPR dan parlemen serta ikut dalam pemilu pada sebuah Negara yang tidak menjalankan syariat islam. Sebenarnya masuk ke dalam lembaga seperti itu berbahaya namun bila seseorang punya ilmu dan bashiroh serta menginginkan kebenaran atau mengarahkan manusia kepada kebaikan, mengurangi kebatilan, tanpa rasa tamak pada dunia dan harta. Maka dia telah masuk untuk membela agama Allah SWT. Berjihad di jalan kebenaran dan meninggalkan kebatilan.
Dengan niat yang baik seperti ini, Penulis memandang bahwa tidak ada masalah untuk masuk parlemen. Bahkan tidak selayaknya lembaga itu kosong dari kebaikan dan pendukungnya.
Bila mereka masuk dengan niat seperti ini dengan berbekal bashiroh hingga memberikan posisi pada kebenaran, membelanya dan menyeru untuk meninggalkan kebatilan, semoga Allah SWT memberikan manfaat dengan keberadannya hingga tegaknya syariat islam dan Allah SWT memberinya pahala atas kerjanya itu. Namu bila motivasinya nuntuk mendapat dunia atau kekuasaan maka hal itu tidak di perbolehkan.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
A. Pengertian Politik
Secara historis, istilah politik diambil dari bahasa yunani atau latin yaitu politicos atau politicus. Keduanya berasal dari kata “police” yang berarti kota atau hubungan antar warga (relating to citizen).
B. Pandangan Islam terhadap Politik
Dan kalau mau jujur memang tidak ada satupun ayat Al-qur’an atau Hadits Nabi SAW yang secara dhahir mengharamkan partai politik. Pemilu dan demokrasi. Kalaupun ada fatwa yang mengharamkan atau membolehkan semua berangakt dari Istimbath hukum yang panjang.
C. Politik yang Bernuansa Islami
Dakwah kepada Allah SWT itu wajib mutlak dimanapun kita berada. Begitu juga dengan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar.
SARAN
Oleh karena itu, seorang Politisi maupun pemimpin Islam diharuskan berpegang dengan rambu-rambu Syari’at dan akhlak mulia. Dengan kata lain bahwa segala cara berpolitik yang bertentangan dengan Syari’at Islam atau melanggar norma-norma agama dan akhlak Islam, maka itu tidak dibenarkan.
DAFTAR PUSTAKA
Yusuf, Ali Anwar.Wawasan Islam. (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2002), 95.
http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/politik-dipandang-dari-kacamata-islam.htm(7-okt-2011,7:01)
http://taufiqmtk08.wordpress.com/2009/4/21/pandangan-Islam-terhadap-politik(7,okt,2011,7:05)
Metode Dakwah yang Digunakan Wali Songo
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Era Walisongo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia. Dengan penuh semangat dan berbagai macam metode serta media yang mereka gunakan untuk berdakwah, akhirnya Walisongo berhasil meng-islam-kan hampir seluruh masyarakat di Indonesia.
Oleh karena itu, untuk lebih memahami tentang metode dan media yang digunakan Walisongo dalam berdakwah dan eksistensinya dimasa kini, kami akan membahasnya dalam makalah ini. Semoga bermanfaat, amin.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana asal-usul Walisongo ?
2. Bagaimana metode dan media dakwah yang digunakan Walisongo ?
3. Bagaimana eksistensi metode dakwah dimasa kini ?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui asal-usul Walisongo
2. Untuk mengetahui metode dan media dakwah yang digunakan Walisongo
3. Untuk mengetahui eksistensi metode dakwah dimasa kini
BAB II
PEMBAHASAN
A. Asal-usul Wali Songo
Walisongo" berarti sembilan orang wali. Mereka adalah :
1. Maulana Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel
3. Sunan Giri
4. Sunan Bonang
5. Sunan Drajat
6. Sunan Kalijaga
7. Sunan Kudus
8. Sunan Muria
9. Sunan Gunung Jati.
Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah maka dalam hubungan guru-murid.
Maulana Malik Ibrahim adalah yang tertua. Sunan Ampel adalah anak Maulana Malik Ibrahim. Sunan Giri adalah keponakan Maulana Malik Ibrahim yang berarti juga sepupu Sunan Ampel. Sunan Bonang dan Sunan Drajad adalah anak Sunan Ampel. Sunan Kalijaga merupakan sahabat sekaligus murid Sunan Bonang. Sunan Muria anak Sunan Kalijaga. Sunan Kudus murid Sunan Kalijaga. Sunan Gunung Jati adalah sahabat para Sunan lain, kecuali Maulana Malik Ibrahim yang lebih dahulu meninggal.
Mereka tinggal di pantai utara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gresik-Lamongan di Jawa Timur, Demak- Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat. Mereka adalah para intelektual yang menjadi pembaharu masyarakat pada masanya. Mereka mengenalkan berbagai bentuk peradaban baru, mulai dari kesehatan, bercocok tanam, niaga, kebudayaan dan kesenian, kemasyarakatan hingga pemerintahan.
Mereka mendapat gelar susuhunan (sunan), yaitu sebagai penasehat dan pembantu Raja. Para Wali melakukan dakwahnya dengan sangat tekun, mereka mampu memahami kondisi masyarakat jawa pada saat itu.
Sudah masyhur dikalangan ulama, tokoh, dan sejarawan lainnya bahwa Islam tersebar luas di Indonesia atas jasa Walisongo dan murid-muridnya. Sebelumnya, usaha dakwah telah dilakukan orang lain, tapi lingkupnya sangat terbatas.
Di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Hindu-Budha, sehingga tak heran jika banyak berdiri kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Budha, sehingga budaya dan tradisi lokal saat itu sangat kental dengan warna kedua agama itu. Hal ini tidak dianggap “musuh agama” bagi Walisongo, akan tetapi dijadikan “teman akrab” dan media dakwah selama tidak bertentangan dengan nash sayri’at.
B. Pendekatan unsur-unsur dakwah
Struktur dakwah pada masa WaliSongo meliputi unsur-unsur dakwah sebagai berikut:
1. Da’i
Walisongo berdakwah dengan cara damai. Yakni dengan pendekatan pada masyarakat pribumi dan akulturasi budaya (percampuran budaya Islam dan budaya lokal). Maulana Malik Ibrahim sebagai perintis mengambil peranannya di daerah Gresik, setelah beliau wafat wilayah ini di kuasai oleh Sunan Giri, Sunan Ampel mengambil posisinya di Surabaya, Sunan Bonang di Tuban, sementara itu Sunan Drajat di Sedayu, sedangkan di Jawa Tengah ada tiga wali yaitu Sunan Kudus yang mengambil wilayah di Kudus, Sunan Muria pusat kegiatan dakwahnya terletak di Gunung Muria (sekitar 18 km sebelah utara Kota Kudus), dan Sunan Kalijaga berdakwah di Demak, sedangkan di Jawa Barat hanya ada satu orang wali saja yaitu Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati menjadi Raja muda di Cirebon dan Banten di bawah lindungan Demak, dan Sunan Giri bukan hanya ulama, namun juga pemimpin pemerintahan, jadi beliau bersifat al-ulama wa al-umara, sedangkan tujuh wali yang lain hanya bersifat al-ulama saja.
2. Mad’u
Seperti halnya pada masa Rasulullah SAW., kondisi mad’u pada masa wali ini termasuk mad’u ummah karena pada saat itu mereka masih beragama hindu – budha, akan tetapi ada juga sebagian yang menerima Islam sebagai agamanya, jadi pada masa wali songo ini termasuk mad’u ijabah dan mad’u ummah.
3. Materi
Materi dakwah yang di terapkan pada dakwah Walisongo ini adalah akidah, syari’ah dan muamalah, dimana para Wali menanamkan akidah kepada masyarakat setempat, karena menghawatirkan penyimpangan akidah akibat tradisi masyarakat jawa, serta memperhatikan secara khusus kepada kesejahteraan sosial dari fakir miskin, mengorganisir amil, zakat dan infaq, dan juga mengajarkan ilmu – ilmu agama seperti ilmu fikih, ilmu hadits, serta nahwu dan shorof kepada anak didiknya.
4. Metode
Ada beberapa metode yang di gunakan para Wali dalam berdakwah yaitu:
• Metode Ceramah
Metode ceramah adalah metode yang di gunakan para Wali untuk menyampaikan pesan- pesan dakwah dengan cara lisan.
• Metode Tanya Jawab
Metode yang digunakan para wali untuk mengetahui sejauh mana pemahaman muridnya tentang materi dakwah.
• Metode Konseling
Membuat kampung-kampumg percontohan yang di pilih di tengah-tengah dengan tujuan agar menjadi pusat rujukan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari mereka dalam segala hal.
• Metode Keteladanan
Para Wali memiliki sifat mahabbah atau kasih sayang, selalu risau dan sedih apabila melihat kemaksiatan, semangat berkorban harta dan jiwa, selalu istighfar dan bersyukur setelah melakukan kebaikan, sabar menjalani kesulitan, memberi kepada semua makhluk tanpa minta bayaran, sehingga banyak masyarakat yang memeluk islam.
• Metode Pendidikan
Para Wali membuka pendidikan pesantren, untuk anak-anak yang ingin belajar ilmu agama, mereka ditampung dalam satu pesantren.
• Metode Bitsah
Para Wali seperti Sunan Giri megembangkan islam keluar jawa, dengan cara mengirim anak muridnya ke pelosok-pelosok Indonesia untuk menyiarkan islam misalnya, Pulau Madura, Bawean, Kangean bahkan sampai ke Ternate dan Huraku yakni Kepulauan Maluku.
• Metode Ekspansi
Sunan Ampel melebarkan wilayah dakwahnya, yaitu dengan mengutus para kepercayaaannya untuk berdakwah ke wilayah lain, seperti dengan mengutus Maulana Ishaq untuk berdakwah ke daerah Blambangan.
• Metode Kesenian
Dalam berdakwah Sunan Muria menciptakan lagu-lagu Jawa-Islam, dan beberapa Wali juga menciptakan tembang-tembang, dan syair lagu-lagu gamelan yang berisi tentang ajaran tauhid dan peribadatan, ada juga tradisi selamatan peninggalan agama Hindu dan Budha didekati dengan acara tahlil, dan masih banyak lagi karya-karya para Wali berdakwah dalam bidang kesenian.
• Metode Kelembagaan
Mendirikan Masjid Agung Demak, dan Masjid inilah yang kemudian di rancang sebagai sentral seluruh aktivitas pemerintahan dan sosial kemasyarakatan.
• Metode Silaturahmi (Home Visit)
Membangun hubungan silaturahmi dan persaudaraan dengan putra pertiwi (pribumi), yaitu dengan menikahkan dengan putri daerah setempat.
• Metode Karya Tulis
Para Wali juga mempunyai karya tulis, di antaranya, Sunan Muria memiliki karya tulis yang masih digemari sampai saat ini, yaitu tembang sinom dan kinanti, dan Sunan Kalijaga juga pengarang buku-buku wayang yang mengandung cerita dramatis dan berjiwa islam.
• Metode Drama
Metode ini dilakukan para Wali karena pada saat itu masyarakat Jawa dikenal memiliki kegemaran terhadap seni pewayangan, dan Sunan Kalijaga memasukkan hikayat-hikayat islam ke dalam permainan wayang.
• Metode Propaganda
Metode ini jelas dilakukan karena para Wali mereka mengajak warga setempat untuk memeluk islam.
• Metode Diskusi
Metode diskusi biasa di maksudkan sebagai pertukaran pikiran antara sejumlah orang secara lisan membahas suatu masalah tertentu dan bertujuan untuk memperoleh hasil yang benar.
5. Media
Ada beberapa media yang digunakan oleh Walisongo dalam melakukan dakwah Islam di pulau Jawa, diantaranya :
a. Masjid
Dimana masjid ini di gunakan sebagai tempat ibadah dan masjid Demak juga di jadikan sentral seluruh aktivitas dan sosial kemasyarakatan.
b. Wayang
Wayang sesungguhnya merupakan boneka yang terbuat dari kulit kerbau atau sapi, pipih yang memiliki dua tangan yang dapat digerakkan dengan stik dan dimainkan oleh seorang dalang, Oleh karenanya, di dalam cerita wayang itulah terkandung nilai moral dan akhlak, perihal keimanan sampai pada thariqah (jalan) menuju ketaqwaan kepada Allah SWT. Bahkan para Wali telah mengatur sedemikian rupa menjadi tiga bagian. Pertama, Wayang Kulit di Jawa Timur, kedua Wayang Wong (orang) di Jawa Tengah, dan ketiga Wayang Golek di Jawa Barat. Masing-masing sangat berkaitan yaitu : Mana yang Kulit (Wayang Kulit), Mana yang Isi (Wayang Wong) dana Mana yang harus dicari (Wayang Golek).
c. Pesantren
Di mana pesantren ini berfungsi sebagai sarana mengamalkan dan mengabdikan ilmunya kepada masyarakat, dari pesantren yang telah didirikan lahirlah para da’i yang memiliki kemampuan yang tinggi dalam memperjuangkan dakwah selanjutnya.
d. Kitab
Kitab yang berbentuk puisi maupn prosa, kitab inilah yang kemudian dikenal dengan Suluk Sunan Bonang.
e. Gamelan
Alat musik yang di gunakan untuk mengiringi tembang/lagu-lagu Jawa yang bernuansa islami.
C. Eksistensi metode dakwah Walisongo di masa kini
Beberapa metode dan media yang digunakan Walisongo dalam berdakwah saat ini tidak semuanya utuh dijadikan metode dan media dakwah pada masa kini. Akan tetapi, ada beberapa media dan metode yang lebih dikembangkan lagi guna meneruskan misi dakwah Islam.
Untuk lebih jelasnya kami uraikan sebagai berikut :
1. Metode
a. Ceramah
Dakwah secara umum tidak lepas dari model ceramah, meskipun ada banyak dakwah yang tidak menggunakannya. Oleh karena itu, sampai saat ini model ceramah masih tetap digunakan dalam rangka dakwah Islam.
b. Tanya-jawab dan diskusi
Sampai saat ini bukan hanya dalam ranah dakwah saja metode tanya jawab dan diskusi digunakan, bahkan dalam dunia pendidikanpun lebih didominasi oleh kedua model ini. Karena hal ini dinilai sangai efektif untuk dapat mengetahui kekurangan yang dimiliki orang lain dan akan semakin mudah menanamkan nilai-nilai pada diri seseorang melalui kekurangannya.
c. Konseling
Dalam dunia dakwah sepertinya saat ini jarang sekali ditemui bimbingan-bimbingan konseling yang benar-benar melayani masyarakat, dalam tanda kutip urusan agama. Misalnya, balai desa saja hanya digunakan untuk kebutuhan administrasi kenegaraan bukan intus keagamaan.
d. Keteladanan
Yang seharusnya dimiliki oleh seorang da’i adalah suri tauladan yang baik. Karena sudah menjadi konsep dimasyarakat bahwa mereka akan benar-benar mengikuti ajakan orang-orang yang berjiwa mulia lahir dan bathin agar bisa dijadikan panutan.
e. Pendidikan
Melalui pendidikan, kita dapat mengetahui sejarah, nilai-nilai keimanan, dan hukum-hukum syari’at yang mengatur pola hidup kita. Oleh karena itu, disetiap lembaga pendidikan baik formal, informal maupun non-formal hendaknya terdapat misi dakwah didalamnya.
f. Bitsah dan ekspansi
Sudah tidak terlihat lagi ada utusan yang dikirim ke daerah lain untuk melakukan misi “dakwah Islam”. Karena dengan berkembangnya teknologi dan kemajuan zaman akan mempermudah kita untuk melakukan dakwah tanpa batasan ruang dan waktu.
g. Kesenian
Indonesia saat ini memang sangat ragam dengan budaya dan kesenian terutama musik. Sayangnya, hanya sebatas hiburan saja bukan dalam rangka dakwah. Beberapa tahun yang lalu ada sejumlah orang yang melakukan dakwah melalui kesenian yakni musik yang mengatas-namakan kelompoknya dengan dalih “Nada Dan Dakwah”. Melalui musik mereka menanamkan nilai-nilai Islami yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Ironisnya sampai sekarang sudah tidak ada lagi yang yang memanfaatkan kesenian seperti musik untuk jalur dakwah bahkan rata-rata bertujuan bisnis. Dan yang hampir mendekati dakwah yaitu lagu-lagu yang tergolong “Album Religi”.
h. Kelembagaan
Pusat atau lembaga dakwah yang terkenal dan masih eksis sampai saat ini yaitu masjid atau musholla dan pondok pesantren. Kedua lembaga ini masih ada di setiap daerah yang masih kental dengan budaya Islam di Indonesia.
Karakteristik pesantren masa kini dibandingkan puluhan tahun lalu sebenarnya hampir sama, hanya saja mungkin terdapat penambahan-penambahan karakteristik sesuai perkembangan zaman. Contohnya di masa awal kemunculan, dalam pesantren belum terdapat laboratorium komputer dan internet yang terhubung. Namun kini komputer dengan segala atribut pelengkapnya menjadi hal yang tidak dapat terpisahkan, sekalipun lokasi pesantren yang jauh dari perkotaan.
i. Silaturrahmi
Yang terlihat dimasyarakat, masih ada sejumlah orang yang melakukan metode ini dalam rangka dakwah Islam, yang dikenal dengan jama’ah tabligh. Sayangnya, bukan mendapat respon positif dari mayoritas masyarakat, justru malah menjadi bahan gunjingan dengan kehadiran mereka di daerahnya. Sebenarnya kalau kita koreksi lagi, merekalah satu-satunya yang masih melanjutkan dakwah Islam dengan cara silaturrahmi. Tapi mengapa justru kurang diterima dimayoritas masyarakat ?
j. Propaganda
Setiap hari Jum’at umat Islam memiliki kewajiban ibadah Shalat Jum’at di masjid. Pelaksanaan Shalat Jum’at diawali dengan pembacaan Khutbah oleh seorang Imam dan dilnjutkan dengan Shalat Jum’at dua rakaat. Hal ini menunjukkan bahwa metode ini masih digunakan untuk dakwah Islam yakni dengan adanya khutbah yang isinya adalah dakwah.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
WaliSongo adalah Sembilan orang Wali mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria serta, Sunan Gunung Jati.
Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila tidak dalam ikatan darah juga dalam hubungan guru- murid. Unsur – unsur dakwah WaliSongo meliputi:
1. Da’i (Al-ulama wa Al-umara)
2. Mad’u (Mad’u Ijabah dan Ummah)
3. Materi (Akidah, Syariah dan Muamalah)
4. Metode (Ceramah, Tanya Jawab, Konseling, Keteladanan, Pendidikan, Bitsah, Ekspansi, Kesenian, Silaturahmi, kelembagaan, Karya Tulis, Drama, Propaganda, dan Diskusi).
5. Media (Masjid, Wayang, Pesantren, Kitab, Gamelan).
B. Saran
Dengan menyelesaikan makalah ini penulis mengharapkan para pembaca bisa paham dan dapat mengetahui sejarah dan unsur- unsur dakwah para WaliSongo dan dengan terselesaikannya makalah ini saya mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun.
Daftar Pustaka
Fattah, Nur Amin. 1994. Metode Da’wah Walisongo. Semarang : CV. Bahagia,
Ilahi, Wahyu dan Hefni, Harjani. 2007. Pengantar Sejarah Dakwah, Cet I. Jakarta : Kencana
Mustari, Mohamad. 2010. Peranan Pesantren dalam Pembangunan Masyarakat Desa. Yogyakarta: Multipress
Syamsu, Muhammad. Tanpa tahun. Ulama Pembawa Islam di Indonesia dan Sekitarnya. Jakarta : Lentera
Langganan:
Postingan (Atom)